Tekun dan Bertahan Membuat Batu Akik, David Sempat Dikira Gila

Reporter

Aunur Rofiq

14 - Oct - 2017, 02:29

David menunjukkan koleksi akik buatannya.(Foto : BlitarTIMES)

Akik kini sudah hampir tak lagi terdengar gaungnya. Namun, ternyata masih ada pengrajin yang menggelutinya. Salah satunya David Imam Zamzani (27). Warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar,  ini sempat dikata pengrajin gila lantaran masih bertahan di kerajinan batu akik yang dibilang sudah tidak tren.

“Pernah saya dikatakan gila. Tapi saya biarkan saja karena aslinya akik punya pasar sendiri. Mereka masih mencari saya untuk poles akik karena polesan saya bagus sehingga toko akik saya tetap ada yang butuh,” ungkap David kepada BLITARTIMES, Jumat (13/10/2017).

Menurut dia, penyebab redupnya pamor akik adalah dari faktor pengrajin atau pemoles batu akik. Yakni hasil karya pemoles batu akik abal-abal kualitasnya buruk. Bentuk batu yang dipoles tidak bulat sempurna dan tidak begitu bening. Hal ini menyebabkan para penggemar akik baru mempunyai kesan kalau batu akik itu tak sebagus yang dipikirkan, lalu meninggalkan hobi koleksi akik.

“Kalau orang baru ketika membeli akik dari pemoles abal-abal pasti tak mau kembali lagi ke pemoles abal-abal itu. Soalnya, batu akik buatan mereka buruk. Hal inilah yang membuat pamor akik turun dikarenakan pengrajin abal-abal yang tak profesional. Kebanyakan mereka pengrajin dadakan yang semula tukang parkir beralih profesi misalnya,” ungkapnya.

Sedangkan David  menekuni kerajinan pembuatan akik dengan total. Dia berguru terlebih dahulu pada seorang yang ahli selama berbulan-bulan. Juga, dia mau mengeluarkan dana lebih untuk kebutuhan alat pemoles yang bagus. “Alatnya juga menentukan. Kalau pemoles abal-abal itu pakai gerinda biasa. Kalau saya pakai gerinda diamond coating. Dengan ini batu akik polesan lebih benih mengkilat,” paparnya.

Kini mungkin hanya dia yang mempunyai toko akik paket lengkap di Kota Blitar. Itu lantaran para penggemar akik sudah tahu kalau polesan miliknya bagus. Kini toko akiknya menjadi penopang hidupnya padahal pamor akik kini berbalik 360 derajat dari masa jayanya dulu di tahun 2014. “Hampir semua penyuka akik di Blitar setiap mau memoles batu datang ke saya. Bahkan ada yang luar kota juga pernah ke sini,” pungkasnya.(*)