Melihat Pembuatan Gong dari Blitar, Perlu Ketelitian Agar Suara Bagus

29 - Mar - 2018, 09:51

Warsito menunjukkan gong buatannya yang masih perlu dipoles agar mengkilap sebelum dipasarkan. (foto: M. Prayogo/BlitarTIMES)

Gong merupakan salah satu alat gamelan yang bulat ceper berongga yang untuk membunyikan harus dipukul hingga berbunyi ‘gong’. Tapi siapa sangka benda yang bentuknya sederhana ini butuh ketelitian yang tinggi untuk bisa membunyikan suara ‘gong’ bisa bernada seperti notasi.

Pembuatan yang cukup rumit ini membuat banyak yang meninggalkan kerajinan ini. Salah pembuat gong yang tersisa salah satunya Warsito warga Desa Jimbe Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar.

Pria berusia 65 tahun ini mengatakan pembuatan gong ini perlu perhitungan yang teliti. Lengkungan gong seperti diameter dan kedalaman gong harus mengikuti ukuran yang pas untuk bisa menciptakan bunyi yang mempunyai nada.

“Gong ini terbuat dari besi yang disambung dengan cara di las. Gong ini saat pertama kali dibuat dari besi tidak bisa langsung bisa berbunyi dan bila dipukul suaranya seperti besi dipukul suaranya gempreng. Harus dibersihkan dilapisi tembaga atau kuningan dulu baru bisa berbunyi,” ungkapnya.

Tak hanya itu untuk menciptakan nada yang diinginkan juga perlu dilakukan penyelerasan. Yakni dengan cara mengerik lapisan perunggu yang melapisi gong lalu dipukul dipukul sampai menciptakan nada yang diinginkan.

“Cara mencari nada ini yang sulit. Kalau tidak ketemu kunci nada yang pas bisa sampai seminggu tidak ketemu dan gong dipukul-pukuli malah bisa rusak sendiri. Maka dari itu kini sudah jarang yang membuat gong ini,” ujar pria yang juga dikenal pemain kendang tayub ini.

Hal ini membuat satu paket gong yang sudah jadi bisa mencapai harga yang fantastis hingga puluhan juta rupiah. Dan gong buatan warga Blitar ini menjadi buruan para pegiat atau grup Kesenian dari Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Bahkan sampai Kalimantan.

“Ini saya lagi membuat pesanan dari grup jaranan di Kalimantan satu paket dihargai senilai Rp 45 juta,” ucapnya.

Produksinya diburu banyak pegiat seni memang dari kualitas yang dia buat dari bahan berkualitas. Dimana dia tidak menggunakan barang bekas lalu di gerinda dan dilas menjadi gong ini.

“Kalau gong seperti di kantor-kantor memang harganya murah dibuat dari bahan bekas tong atau pir bekas truk oleh para pengrajin besi biasa. Kalau saya memang mengutamakan kualitas dari besi galvanik dan dilapisi perunggu. Kalau orang dulu orang seperti saya adalah mpu gamelan atau mengutamakan kualitas dan seni dalam proses pembuatan gamelan,” terang pria yang sudah 40 menggeluti membuat gamelan ini. (*)