Rp 15 Ribu untuk Tiga Hari, Derita Senyap Tukang Becak Listrik di Kota Malang
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
04 - Mar - 2026, 12:13
JATIMTIMES - Di tepi jalan sekitar DPRD Kota Malang, sebuah becak listrik terparkir diam. Di atasnya, Bambang (57) duduk menunggu dengan tatapan yang sesekali kosong, sesekali berharap. Deretan becak lain berdiri berjajar, namun siang itu tak satu pun penumpang menghampiri.
“Hari ini belum ada penumpang mas,” ucapnya pelan saat ditemui Rabu (4/3/2026).
Baca Juga : Untung dengan Harga Cabai 90 Ribu per Kilo, Petani Lesanpuro Hadapi Lonjakan Biaya Produksi
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan lelah yang panjang. Bagi pria asal Dampit tersebut, menunggu sudah menjadi bagian dari hidup. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, tiga hari berlalu hanya dengan satu penumpang. Upahnya Rp 15 ribu untuk tiga hari bertahan.
“Wes biasa mas. Semua becak ya gak nentu gini. Kadang sehari itu gak ada, akhir-akhir ini 3 hari baru satu penumpang saja,” kata dia.
Bambang pernah menyimpan harapan ketika mendapat bantuan becak listrik dari Prabowo Subianto. Ia membayangkan roda hidupnya akan sedikit lebih ringan. Namun di tengah laju zaman, harapan itu seperti tertinggal di belakang. Warga kini lebih memilih ojek online yang dianggap praktis dan murah.
“Ternyata sama saja. Penumpang meskipun dekat stasiun lebih memilih online (Ojol) itu mas,” tambahnya.
Ia mematok Rp 15 ribu untuk rute dari gedung DPRD menuju Kayutangan. Namun tarif yang tak pasti sering membuat calon penumpang ragu.
“Kalau kami becak masih nyang-nyangan. Kalah sama Ojol,” kata dia lirih.
Hari-hari Bambang tak hanya diisi dengan menunggu. Di sekitar Alun-Alun Tugu Malang, ia dan beberapa tukang becak lain bertahan dari uluran tangan orang-orang baik. Nasi bungkus, sembako, atau amplop kecil kerap menjadi penyambung hidup, terlebih di bulan puasa.
“Apalagi bulan puasa gini, ya bukannya ngemis. Ya makannya itu dari dikasih. Kadang sembako, nasi, biasanya juga amplop,” katanya.
Namun kebaikan itu tidak datang setiap waktu. Jika tak ada yang memberi, ia terpaksa berutang ke warung dekat tempat mangkal. Sekadar untuk secangkir kopi dan rokok eceran.
Baca Juga : Honda Ramadan Exhibition & Pengundian Untukmu Konsumen Honda Berlangsung Meriah di GOR Ken Arok Malang
“Ya pokoknya bisa untuk ngopi sama rokok ngecer alhamdulillah. Pokok saya gak nyolong saja alhamdulillah mas,” ujarnya.
Sudah lama Bambang tak pulang ke rumahnya di Dampit, Kabupaten Malang. Ongkos perjalanan terasa terlalu jauh untuk dijangkau. Maka becak listrik itulah yang menjadi ruang istirahatnya ketika malam tiba.
“Itu bukan saya saja banyak malam-malam yang gak pulang ya banyak. Coba malam lihat,” jelasnya.
Di tengah kehidupan yang jauh dari kata sejahtera, Bambang memilih bersandar pada rasa syukur. Ia tak menuntut banyak. Cukup bisa bertahan, cukup bisa merokok, cukup tahu anaknya telah mandiri dan berkeluarga.
“Ya semua disyukuri saja mas. Pokok saya bisa rokokan sudah bersyukur. Anak ya sudah mandiri sudah nikah,” tutupnya.
Di bawah langit Kota Malang yang terus bergerak cepat, Bambang tetap menunggu. Menunggu penumpang, menunggu rezeki, dan mungkin menunggu keajaiban kecil yang suatu hari kembali menghampirinya.
