Protes 5 Warga Picu Polemik, Pemkot Malang Pilih Tutup Saluran Soehat demi Selamatkan Ribuan Orang
Reporter
Riski Wijaya
Editor
A Yahya
19 - Mar - 2026, 10:41
JATIMTIMES - Polemik penanganan banjir di kawasan Soekarno-Hatta (Soehat), Kota Malang, akhirnya menemui titik tegas. Pemerintah memutuskan menutup salah satu saluran air yang selama ini justru memicu perdebatan antara kepentingan warga dan keselamatan publik.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut tidak diambil tanpa dinamika di lapangan. Bahkan, ada lima warga yang sempat memprotes rencana penutupan saluran tersebut.
Baca Juga : Penerima Manfaat Tak Bisa Perbaiki Kerusakan, Picu Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Mangkrak
Menurut Emil, kelima warga itu tinggal di kawasan bantaran yang merupakan lahan milik pemerintah provinsi. Area tersebut sejatinya difungsikan sebagai ruang air untuk menampung debit saat kondisi pasang maupun hujan deras.
“Karena mereka tinggal di situ, di tanah bantaran PUSDA, yang seharusnya jadi ruang air. Lama-lama malah diperluas dan makin masuk ke titik paling rawan banjir,” jelasnya.
Warga tersebut, lanjut Emil, khawatir jika saluran ditutup justru akan menyebabkan rumah mereka kebanjiran. Namun di sisi lain, membuka saluran tersebut terbukti berdampak lebih luas, yakni menyebabkan banjir di wilayah lain dengan jumlah terdampak jauh lebih besar.
“Kalau kita buka, yang banjir bisa ribuan warga di Kedawung dan Ciliwung. Jadi mohon maaf, kepentingan umum harus di atas kepentingan pribadi atau golongan,” tegasnya.
Sebagai jalan tengah, Pemkot Malang tetap membuka ruang komunikasi. Bahkan, kunci saluran diberikan duplikatnya kepada Wali Kota sebagai bentuk kontrol situasional. Artinya, saluran dapat ditutup saat terjadi hujan besar guna meminimalisasi dampak banjir yang meluas.
Di sisi lain, pemerintah juga tidak menutup mata terhadap kondisi lima warga tersebut. Emil memastikan akan ada langkah lanjutan bersama camat, wali kota, dan pihak PUSDA untuk mencarikan solusi yang lebih manusiawi.
“Kita tetap punya rasa kemanusiaan. Ini jadi PR bersama untuk mencarikan solusi bagi warga di sana,” imbuhnya.
Keputusan penutupan saluran ini disebut sudah berlaku efektif. Emil menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah kejadian banjir besar seperti yang sebelumnya terjadi dan sempat terekam dalam dokumentasi lapangan.
Baca Juga : Flyover Arjosari Rusak dan Bergelombang, DPUPRPKP Kota Malang Hanya Bisa Tambal Lubang
“Kita tidak ingin kejadian banjir besar itu terulang lagi. Kalau hujan deras mungkin masih ada genangan, tapi tidak separah kemarin,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa selama ini distribusi aliran air tidak merata. Ketika satu wilayah relatif aman, wilayah lain justru mengalami dampak yang lebih parah akibat aliran yang tidak terkendali.
Dengan kebijakan baru ini, saluran akan dimaksimalkan untuk menahan debit air di titik tertentu agar tidak memperparah kondisi di wilayah lain.
Sementara itu, upaya lain seperti pembersihan saluran air disebut sudah berjalan dan akan terus dilakukan secara konsisten. Termasuk rencana pengerjaan trotoar di kawasan tersebut yang dijadwalkan berlangsung tahun ini.
Ke depan, Pemkot Malang menegaskan komitmennya untuk menata sistem drainase secara lebih menyeluruh agar persoalan banjir di kawasan Suhat tidak lagi menjadi ancaman tahunan bagi warga.
