Tradisi Idulfitri di Iran yang Kini Terhenti Akibat Perang Lawan AS dan Israel

Reporter

Mutmainah J

Editor

A Yahya

19 - Mar - 2026, 12:12

Bendera Iran. (Foto: pixabay)

JATIMTIMES - Perayaan Idulfitri di Iran selama ini dikenal penuh kehangatan dan kebersamaan, tak jauh berbeda dengan suasana Lebaran di Indonesia. Namun, konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel membuat berbagai tradisi tersebut terancam tak bisa dijalankan pada tahun 2026.

Padahal, Idulfitri bagi masyarakat Iran bukan sekadar hari raya keagamaan, tetapi juga momen penting untuk mempererat hubungan keluarga dan menjaga tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.

Baca Juga : THR Anak Cepat Habis? Ini Cara Mengatur Angpau Lebaran Anak Menurut Psikolog dan Perencana Keuangan

Suasana Lebaran yang Biasanya Penuh Kehangatan

Dilansir dari Prensa Latina, umat Islam di Iran yang mayoritas beraliran Syiah memiliki kebiasaan mengenakan pakaian baru saat merayakan Idulfitri. Tradisi ini menjadi simbol kebersihan diri sekaligus semangat baru setelah menjalani Ramadan.

Selain itu, masyarakat biasanya mengunjungi tempat-tempat suci seperti masjid, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat. Momen kebersamaan ini sering diisi dengan makan bersama di rumah keluarga besar, lengkap dengan hidangan khas Lebaran.

Anak-anak pun tak luput dari kebahagiaan, karena mereka biasanya menerima hadiah dari orang tua maupun anggota keluarga yang lebih tua.

Tradisi Unik di Berbagai Daerah

Menurut laporan Shargh Daily, tradisi Idulfitri di Iran juga dipengaruhi oleh keberagaman etnis di setiap daerah.

Di wilayah utara seperti Guilan dan Mazandaran, masyarakat merayakan Lebaran dengan mengenakan pakaian tradisional dan menikmati hidangan di alam terbuka. Mereka juga aktif berbagi sedekah kepada yang membutuhkan.

Menariknya, warga di daerah ini memiliki tradisi berkumpul pada malam terakhir Ramadan untuk berbuka puasa bersama keluarga besar sebuah momen yang sarat makna kebersamaan.

Sementara itu, di Hormozgan, perayaan Idulfitri berlangsung hingga tiga hari. Umat Muslim saling mengucapkan selamat, menunaikan zakat fitrah, serta berziarah ke makam keluarga untuk mendoakan yang telah meninggal.

Tradisi berkumpul di rumah tetua keluarga juga menjadi bagian penting, biasanya diisi dengan makan siang bersama dan mempererat silaturahmi.

Kue Lebaran hingga Tradisi Sosial

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Di wilayah Yazd bagian timur dan Lorestan, suasana Lebaran juga identik dengan pembuatan kue khas, mirip dengan tradisi di Indonesia.

Pada hari raya, masyarakat Yazd dikenal memenuhi nazar dengan membagikan makanan gratis kepada sesama. Para perempuan juga turut berbagi kue ke tempat pengajian yang mereka datangi selama Ramadan.

Sedangkan di Lorestan, warga biasanya membersihkan rumah sebelum Lebaran, lalu berbagi kue dengan tetangga dan keluarga. Uniknya, hari Idulfitri juga kerap dipilih sebagai momen untuk melangsungkan akad nikah bagi pasangan yang telah siap menikah.

Dengan situasi perang yang masih berlangsung, berbagai tradisi tersebut kemungkinan besar tidak dapat dijalankan seperti biasanya. Aktivitas yang identik dengan keramaian dan kebersamaan kini harus terhenti, digantikan oleh suasana penuh kekhawatiran.

Padahal, bagi masyarakat Iran, Idulfitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang menjaga nilai kebersamaan, berbagi, dan memperkuat ikatan sosial.