Turis Malaysia Ramai Belanja ke Indonesia Saat Rupiah Melemah
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
03 - Jun - 2026, 11:36
JATIMTIMES - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing masih menjadi sorotan. Kali ini, sorotan datang dari adanya peningkatan kunjungan wisatawan asal Malaysia yang ramai berbelanja di Indonesia karena harga barang dinilai jauh lebih murah.
Perbincangan tersebut mencuat setelah konten kreator David Alfa Sunarna mengunggah video di media sosial yang membahas dampak pelemahan rupiah terhadap daya beli wisatawan asing, khususnya dari Malaysia.
Baca Juga : Dino Patti Djalal Kritik Lambatnya Penerimaan 17 Dubes Asing di Indonesia
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.896 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Rupiah tercatat turun 57,5 poin atau sekitar 0,32 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Dalam unggahannya, David Alfa Sunarna menyoroti fenomena wisatawan Malaysia yang datang ke Indonesia untuk berbelanja berbagai kebutuhan. "Turis Malaysia sekarang lagi ramai menyerbu Indonesia. Datang ke Jakarta borong semua barang Indonesia. Murah soalnya menurut mereka," ujarnya.
Meski demikian, David menjelaskan bahwa videonya bukan ditujukan untuk menyerang wisatawan asing. "Ini bukan video soal benci turis ya. Mereka tamu. Malah bagus buat ekonomi kita," katanya.
Menurut David, alasan utama banyak wisatawan Malaysia datang ke Indonesia adalah karena nilai tukar rupiah yang melemah membuat daya beli mereka meningkat signifikan. "Yang mau gue bahas, kenapa mereka berbondong-bondong kesini? Karena rupiah kita murah. Bayangin 500 ringgit itu 2,2 juta loh," ucapnya.
Ia menyebut ada wisatawan yang mengaku bisa membeli parfum dan kemeja batik dengan harga jauh lebih murah dibandingkan di negara asalnya. "Ada yang cerita beli parfum sama kemeja batik 80% lebih murah dari Malaysia. Wajar dong mereka happy liburan disini," lanjutnya.
David menggambarkan bahwa uang 500 ringgit di Malaysia memiliki daya beli yang berbeda ketika dibelanjakan di Indonesia. "Di Malaysia 500 ringgit itu cuma buat makan sama jajan dikit. Disini bisa transport, kuliner, hotel plus borong oleh-oleh lagi," katanya.
Dalam videonya, David menilai kondisi tersebut tidak semata-mata menunjukkan peningkatan kekuatan ekonomi Malaysia, melainkan karena rupiah sedang mengalami tekanan. "Turis Malaysia ngerasa kaya bukan karena mereka makin hebat, tapi karena mata uang kita tuh lagi sakit," ujarnya.
Ia menyinggung nilai tukar ringgit terhadap rupiah yang menurutnya sempat menyentuh level tertinggi. "29 Mei kemarin, 1 ringgit tembus 4.500. Rekor terlemah sepanjang sejarah," katanya.
David juga menyoroti pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang negara lain di kawasan Asia Tenggara. "Rupiah udah jeblok hampir 10% lawan ringgit. Bahkan lawan dolar Singapura juga rekor, tembus 14.000. Bahkan melemah juga sama dong Vietnam dan real Kamboja loh," ujarnya.
Menurutnya, salah satu faktor yang mungkin memengaruhi kondisi tersebut adalah keluarnya dana asing dari Indonesia. "Menurut gue pasti ada outflow dolar gila-gilaan keluar dari negara ini. Dan investor-investor asing ini, antek-antek asing ini, pasti pada narik duitnya dari Indonesia," katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi fiskal pemerintah yang menurutnya perlu mendapat perhatian. "Defisit APBN tahun 2025 udah 2,92%, mepet banget sama batas UU 3%. Dan budget defisit pemerintah Indonesia di 4 bulan pertama ini udah minus 164 triliun," ujarnya.
David kemudian membandingkan kondisi ekonomi Indonesia dengan Malaysia yang menurutnya memiliki sejumlah indikator ekonomi yang lebih kuat. "Kalau kita bandingin sama Malaysia, neraca dagang mereka tuh surplus 24 miliar ringgit. Ekspornya tumbuh. PDB di atas 5%. Fundamental ekonomi mereka sehat. Makanya ringgitnya kuat," katanya.
Karena itu, ia menilai fenomena wisatawan Malaysia yang ramai berbelanja ke Indonesia tidak bisa dipandang sekadar sebagai kabar baik sektor pariwisata. "Jadi ini bukan soal mereka lagi naik. Ini soal kita yang lagi turun," tegasnya.
Menurut David, pelemahan rupiah juga memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Baca Juga : Okupansi Hotel Kota Malang saat Idul Adha Hanya 60 Persen, Long Weekend Akhir Mei Tembus 90 Persen
"Rupiah lemah artinya semua barang impor makin mahal. Gadget, obat, bahan baku pabrik, sampai cicilan utang negara dalam dolar, semua makin mahal," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi yang dianggap menguntungkan wisatawan asing justru bisa menjadi beban bagi masyarakat dalam negeri. "Yang turis Malaysia rayain sebagai liburan murah, buat kita itu artinya biaya hidup kita naik," katanya.
Di akhir videonya, David mengingatkan agar masyarakat tidak hanya melihat fenomena tersebut sebagai hal yang lucu atau membanggakan.
"Jadi pas lu lihat turis Malaysia bilang murahnya barang Indonesia, jangan cuma ketawa. Itu bukan flexing mereka. Itu alarm buat kita," ujarnya.
"Pertanyaan gue adalah, kapan rupiah kita balik sehat?" imbuhnya.
Unggahan tersebut kemudian ramai dikomentari warganet dengan beragam pendapat.
Salah satu akun menulis, "MBG dan kopdes bubar = Rupiah selamat," tulis akun @unziel.ha***.
Komentar lain menyebut pelemahan rupiah bukanlah strategi yang menguntungkan.
"Kata buzzer sengaja rupiah dilemahkan biar banyak turis mancanegara ke sini, padahal rupiah lagi sakit minta ampun," tulis akun @moh_syahrulmu***.
Ada pula yang mengaitkan kondisi rupiah dengan sejumlah program pemerintah.
"kuncinya di MBG, KMDP, dan Prabowo tidak pidato atau ngomong sembarangan," tulis akun @marianahnovia***.
Sementara itu, komentar lain menyoroti perbedaan daya beli masyarakat kedua negara.
"2.2 juta adalah gaji standar org indonesia perbulan. kami agak shock gaji kalian hanya dibayar RM500 sebulan," tulis akun @frh***.
