BTN dan KPR Gen Z : Ketika Digitalisasi Jadi Alat Inklusi Hunian

Editor

Dede Nana

13 - Jan - 2026, 02:29

Digitalisasi layanan BTN : komitmen nyata dalam mempermudah akses layanan perbankan dan KPR untuk masyarakat (Anggara/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Bagi banyak Gen Z, kepemilikan rumah kian menjauh dari horizon realistis. Kenaikan harga properti bergerak lebih agresif dibanding pertumbuhan pendapatan, menciptakan kesenjangan struktural antara daya beli dan nilai aset hunian. Di tengah tekanan inflasi biaya hidup dan fase awal akumulasi modal, rumah sering kali turun kasta, dari kebutuhan primer menjadi mimpi jangka panjang yang terus ditunda.

Namun di Kota Malang, Novi Dwi Anggraini (25) memilih pendekatan berbeda. Warga Jl Mergan Musholla 742a, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang ini tidak menafikan realitas ekonomi yang menekan, tetapi juga tidak membiarkan dirinya terjebak dalam siklus menunda tanpa ujung. Dengan perhitungan matang, Novi mengambil keputusan yang bagi banyak seusianya dianggap berani, yakni membeli rumah pertama melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank BTN.

Baca Juga : Golkar Dukung Pilkada Lewat DPRD, Ahmad Irawan Soroti Dampak Sosial Pilkada Langsung

Keputusan itu tidak lahir dari euforia promosi atau dorongan konsumtif. Ia tumbuh dari diskusi keluarga dan pertimbangan rasional tentang risiko jangka panjang. BTN dipilih bukan karena popularitas semata, melainkan karena rekam jejak institusionalnya di sektor pembiayaan perumahan. 

BTN mencatat sejarah sebagai pelopor pembiayaan hunian nasional. Sejak 1976, bank ini sudah lebih dulu menghadirkan skema KPR di Indonesia. 

“Kalau bicara KPR, BTN itu sudah lama main di sektor ini, ketika ngomong KPR ya BTN,” kata Novi singkat, merujuk pada spesialisasi yang ia nilai krusial dalam keputusan finansial jangka panjang.

Rumah yang ia ambil berada di Perumahan Graha Malang Indah, Kelurahan Kedungkandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Proses menuju titik itu tidak instan. Ada fase keraguan, kecemasan terhadap rasio cicilan terhadap pendapatan, hingga kekhawatiran atas keberlanjutan arus kas bulanan. 

Dalam terminologi ekonomi rumah tangga, Novi berada pada fase kehati-hatian maksimum, memastikan kewajiban kredit tidak menggerus stabilitas finansialnya di masa depan.

"Ya Alhamdulillah, skema yang diberikan make sense dan bisa membantu saya dalam mengatur keuangan, cicilan yang ada juga tidak memberatkan, hanya Rp 900 ribu-an. Tenor waktu cicilan juga panjang, dan ini sangat membantu," katanya.

Keraguan itu perlahan mereda ketika ia mulai memahami proses yang dijalani. Kejelasan alur, keterbukaan informasi, dan kepastian tahapan menjadi faktor penenang. Di titik ini, transformasi digital BTN memainkan peran penting. 

Pengalaman Novi menggunakan layanan digital BTN menjadi turning point. Di awal, ia mengakui perlu adaptasi. Namun setelah memahami alurnya, layanan digital justru memberi rasa kontrol atas kewajiban finansialnya. 

Belum lagi, fitur yang disediakan Bank BTN  pada aplikasi digitalnya juga beragam dan terintegrasi. “Setelah paham, ternyata alurnya jelas,” ujarnya. 

Dari ponsel, ia dapat memantau cicilan, mutasi, hingga notifikasi terkait KPR, sebuah bentuk transparansi yang meminimalkan asimetri informasi antara bank dan nasabah.

Digitalisasi dalam konteks ini bukan sekadar efisiensi operasional, melainkan instrumen literasi finansial. Akses real-time terhadap data kredit membuat nasabah lebih sadar posisi keuangannya, sekaligus mendorong pengambilan keputusan yang lebih rasional. Transparansi bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan fondasi kepercayaan.

Bagi Novi, perbedaan BTN dengan bank lain terletak pada fokus strategisnya. Pembiayaan perumahan tidak diposisikan sebagai produk pelengkap, tetapi sebagai salah satu core business. Pendekatan ini menciptakan pengalaman nasabah yang lebih terarah, BTN tidak hanya menyediakan kredit, tetapi juga membangun ekosistem yang menopang proses kepemilikan rumah dari hulu ke hilir. 

“Rasanya bukan cuma dilayani, tapi ditemani,” katanya.

Tantangan struktural tetap ada. Harga rumah dan pendapatan Generasi Z masih berada pada lintasan yang belum sepenuhnya selaras. Namun skema KPR BTN dinilai memberi ruang adaptasi bagi pembeli pertama. Proses pengajuan memang menuntut kelengkapan dokumen dan disiplin administratif, tetapi alurnya terukur. Status pengajuan dapat dipantau, progres terbaca, sehingga mengurangi ketidakpastian yang sering menjadi sumber kecemasan generasi muda.

Transformasi digital BTN juga bergerak lebih jauh melalui Bale by BTN, sebuah platform keuangan terintegrasi yang dirancang sebagai one-stop financial solution. Bale menyatukan berbagai layanan, mulai dari transaksi perbankan, pembukaan rekening digital, pengajuan KPR, hingga akses investasi, dalam satu ekosistem digital. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran model perbankan dari institusi transaksional menuju penyedia solusi finansial menyeluruh.

Bale juga dilengkapi program loyalitas Bale Poin, yang memberi insentif atas aktivitas transaksi nasabah. Meski bukan faktor utama dalam keputusan kredit, skema ini memperkaya pengalaman digital dan mendorong keterikatan jangka panjang. Bagi Generasi Z yang akrab dengan ekosistem aplikasi terintegrasi, model semacam ini terasa relevan dan efisien.

"Saya lihat banyak fiturnya di Bale, bisa QRIS, bayar tagihan, top up pulsa, paket data, bayar listrik, PDAM, bayar pajak, bahkan sampai amal pun bisa, lengkap banget layanannya," ungkap wanita yang bekerja disebuah klinik kecantikan ini.

Bagi Novi, ponsel kini berfungsi sebagai kantor cabang personal. Akses digital bukan lagi preferensi, melainkan prasyarat. Bank yang gagal beradaptasi dengan pola konsumsi digital generasi muda berisiko kehilangan relevansi. Meski demikian, Novi menilai transformasi ini masih menyisakan ruang pengembangan, terutama pada aspek edukasi finansial digital agar semakin inklusif bagi pengguna muda.

Kini, BTN telah menjadi bagian dari fase hidupnya, bukan sebagai tujuan akhir, melainkan gerbang menuju kemandirian ekonomi. Harapannya ke depan sederhana namun strategis: BTN terus adaptif, konsisten, dan berani merancang skema pembiayaan yang berpihak pada generasi produktif awal. “BTN bikin mimpi punya rumah terasa mungkin. Nggak instan, tapi masuk akal," ujarnya menutup.

Corporate Secretary Bank BTN, Ramon Armando, menyebut PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. terus membuka akses kepemilikan rumah bagi Generasi Z, khususnya mereka yang lahir pada 1997–2002. Melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), generasi muda kini berpeluang memiliki hunian sejak usia 21 tahun, baik sebagai tempat tinggal maupun aset investasi.

“Kami memfasilitasi kebutuhan Gen Z untuk memiliki hunian melalui produk KPR yang mudah diakses,” ujar Ramon.

BTN, lanjut Ramon, merancang produk pembiayaan yang menyesuaikan karakter keuangan generasi muda, mulai dari bunga yang kompetitif, fleksibilitas pembayaran, hingga proses pengajuan yang lebih cepat.

Salah satu produk yang ditawarkan adalah KPR BTN Gaess. Produk ini menyediakan pilihan tenor yang beragam, skema tanpa uang muka, serta suku bunga kompetitif, sehingga memungkinkan Gen Z menyesuaikan cicilan dengan kemampuan finansial mereka.

“KPR BTN Gaess ditujukan bagi Gen Z dan Milenial usia 21 sampai 40 tahun, dengan bunga mulai 1,99 persen dan tenor hingga 30 tahun,” tambah Ramon.

Baca Juga : Relokasi RPH Pegirian Dilanjutkan Setelah Idul Fitri 2026, Pemkot Surabaya Lakukan Pendekatan dan Sosialisasi

Memperkuat ekosistem perumahan yang inklusif, BTN dinilai kian strategis dalam menjembatani kepentingan pemerintah, pengembang, dan masyarakat, termasuk Generasi Z yang kerap dipersepsikan berisiko dalam akses pembiayaan. 

Pakar Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang, Dr. Dwi Ekasari Harmadji menilai, stigma Generasi Z sebagai kelompok berisiko tinggi dalam pembiayaan perumahan sudah saatnya ditinjau ulang secara lebih objektif dan berbasis data. Menurutnya, label tersebut lahir dari cara pandang lama yang belum sepenuhnya memahami perubahan struktur ekonomi dan pola kerja generasi muda saat ini.

Dwi Ekasari menjelaskan, karakteristik kerja Gen Z yang banyak terjun ke sektor gig economy, memiliki riwayat kredit yang masih pendek, hingga pendapatan yang fluktuatif kerap dibaca perbankan sebagai sinyal risiko.

 Padahal, di sisi lain, Gen Z justru tumbuh sebagai generasi yang lebih melek literasi keuangan digital, terbiasa dengan transparansi finansial, serta cenderung lebih berhati-hati terhadap utang jangka panjang karena pengalaman krisis ekonomi global yang mereka saksikan sejak dini. 

Bahkan, sejumlah data empiris menunjukkan tingkat gagal bayar Gen Z pada produk kredit ritel masih kompetitif dibanding generasi sebelumnya.

Dalam konteks itu, kebijakan BTN menghadirkan skema KPR khusus bagi Gen Z dinilai sebagai langkah rasional, bukan keputusan gegabah. Dari sudut pandang bisnis, Gen Z mencakup sekitar 27 persen populasi Indonesia atau setara 75 juta jiwa, segmen pasar yang terlalu besar untuk diabaikan. 

Selain itu, usia pembeli rumah pertama yang selama ini berada di rentang 30–35 tahun kini justru beririsan langsung dengan Gen Z. Mengunci loyalitas nasabah sejak awal kehidupan finansial mereka dinilai memiliki nilai jangka panjang yang tinggi bagi perbankan.

Secara makroekonomi, akses kepemilikan rumah bagi Gen Z juga berpotensi menjadi pengungkit sektor konstruksi dan ekonomi riil. Jika generasi ini seluruhnya terjebak dalam siklus sewa, risiko gelembung pasar hunian sewa justru semakin besar. Karena itu, kehadiran skema pembiayaan adaptif dinilai sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperluas kepemilikan rumah sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.

Namun demikian, Dwi Ekasari menekankan bahwa adaptasi tidak boleh dimaknai sebagai pelonggaran standar risiko. Justru sebaliknya, perbankan perlu memperbarui cara membaca risiko melalui pendekatan yang lebih relevan dengan realitas kerja modern. Mulai dari pemanfaatan data alternatif seperti jejak transaksi digital, e-wallet, dan pembayaran utilitas, hingga skema mitigasi risiko seperti uang muka yang disesuaikan, pembiayaan bersama orang tua, serta perlindungan asuransi dan penjaminan kredit.

Ia juga menilai skema KPR konvensional yang masih mengandalkan slip gaji dan asumsi pendapatan stabil sudah tidak sepenuhnya relevan. Untuk Gen Z, verifikasi pendapatan perlu berbasis analisis arus kas, rata-rata penghasilan dalam periode tertentu, serta pengakuan terhadap multiple income streams. 

Fleksibilitas pembayaran menjadi kunci, termasuk opsi cicilan variabel, grace period saat pendapatan menurun, hingga kebebasan mempercepat pembayaran ketika penghasilan meningkat tanpa penalti.

Lebih jauh, inovasi berbasis teknologi seperti halnya yang dilakukan BTN dinilai mampu menekan risiko secara signifikan. Penggunaan artificial intelligence untuk sistem peringatan dini, integrasi open banking, hingga skema produk seperti rent-to-own, shared equity, dan income-contingent repayment disebut telah terbukti di sejumlah negara menurunkan tingkat gagal bayar hingga 30-40 persen dibanding skema konvensional.

Dari perspektif jangka panjang, Dwi melihat bonus demografi bukan sebagai beban, melainkan peluang strategis. Gen Z diproyeksikan menjadi 40 persen tenaga kerja global pada 2030, dan kepemilikan rumah memiliki korelasi kuat dengan stabilitas ekonomi, konsumsi domestik, serta pembentukan aset jangka panjang. Bagi perbankan, membangun relasi sejak dini berarti membuka peluang hubungan nasabah selama 30 tahun lebih, lengkap dengan potensi cross-selling produk keuangan lainnya.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah aman memberi KPR kepada Gen Z, tetapi bagaimana mendesain produk yang memungkinkan mereka membeli rumah secara aman dan berkelanjutan,” tegasnya. Menurutnya, perbankan seperti halnya BTN yang cepat beradaptasi, justru sedang memposisikan diri untuk memanen dividen demografi. Sebaliknya, institusi yang bertahan dengan pola lama berisiko kehilangan satu generasi nasabah sekaligus.

Disisi lain, Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Jawa Timur, H. Makhrus Sholeh, menegaskan peran BTN tidak berhenti pada pembiayaan konsumen, melainkan menyeluruh dari hulu ke hilir. “BTN ini membiayai yang membangun rumah dan yang membeli rumah. Jadi ekosistemnya jalan. Fokus BTN memang perumahan, dan itu yang kami rasakan di lapangan,” ujarnya. 

Menurut Makhrus, dukungan pembiayaan seperti KUR pengembang dan skema Kredit Pemilikan Proyek (KPP) memungkinkan kontraktor dan pengembang meningkatkan kapasitas, mempercepat proyek, serta merespons kebutuhan pasar secara lebih terukur.

Lanjutnya, BTN dinilai mengambil posisi berani dengan tetap membuka akses hunian bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) dan Gen Z melalui skema pembiayaan yang terukur dan berbasis ekosistem. Makhrus menyebut persepsi risiko terhadap Gen Z kerap keliru. “Gen Z ini bukan tidak produktif, tapi pola kerjanya yang berubah. BTN membaca itu, lalu menyiapkan skema yang tetap aman bagi bank, pengembang, dan pembelinya,” katanya. 

Ia menambahkan, KPR (FLPP Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) dengan bunga tetap 5 persen membuat angsuran setara biaya sewa, sekitar satu jutaan, sehingga anak muda lebih berani mengambil rumah, sementara KPP (Kredit Program Perumahan) dengan bunga sekitar 6 persen mendorong pengembang lebih percaya diri menggarap segmen tersebut. “Ini bukan sekadar jualan rumah, tapi menyiapkan masa depan,” tegasnya. 

Ke depan, ia berharap kolaborasi BTN dengan asosiasi pengembang terus diperkuat untuk mempercepat Program Strategis Nasional 3 Juta Rumah, agar akses hunian yang layak dan berkelanjutan kian terbuka bagi semua lapisan, termasuk generasi muda.

Kisah Novi merepresentasikan pergeseran cara pandang Generasi Z terhadap kepemilikan rumah: lebih rasional, terukur, dan berani mengambil keputusan sejak dini. Di tengah tantangan struktural harga properti dan dinamika pendapatan muda, BTN hadir bukan sekadar sebagai penyalur kredit, melainkan arsitek ekosistem perumahan yang saling terhubung, dari pengembang hingga pembeli pertama. 

Digitalisasi layanan, fleksibilitas skema KPR yang disediakan BTN, serta kolaborasi dengan pengembang menjadi fondasi yang membuat mimpi memiliki rumah tak lagi terasa utopis. Bukan instan, bukan tanpa risiko, tetapi realistis. Dan di situlah rumah pertama Gen Z mulai berdiri pelan, tapi pasti.