Rial Iran Ambruk, Warga Turun ke Jalan Protes Biaya Hidup

13 - Jan - 2026, 07:12

Demo besar-besaran di Iran, buntut tekanan ekonomi yang kian berat. (Foto: AFP/via Getty Images)

JATIMTIMES - Tekanan ekonomi yang kian berat membuat Iran diguncang gelombang demonstrasi sejak awal 2026. Negara yang kini dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian itu menghadapi inflasi tinggi bersamaan dengan nilai tukar rial yang terus terpuruk, hingga memukul daya beli masyarakat.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (13/1/2026), aksi unjuk rasa pecah di sejumlah wilayah Iran. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan protes besar-besaran terjadi pada Senin malam di Kota Abdanan, Provinsi Ilam, Iran bagian tengah.

Baca Juga : Indeks Pembangunan Manusia Kota Batu 2025: Umur Harapan Hidup hingga Standar Hidup Layak Meningkat

Ribuan warga turun ke jalan. Dari anak-anak yang datang bersama orang tua hingga para lansia terlihat berjalan beriringan sambil meneriakkan protes di jalan-jalan kota kecil tersebut. Situasi ini mencerminkan meluasnya keresahan publik akibat tekanan ekonomi yang tak kunjung mereda.

Pemerintah Iran merespons cepat dengan memperketat pengawasan serta memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis (8/1/2026). Namun, langkah itu dinilai tidak efektif. Pembatasan akses digital disebut tak mampu membendung gelombang demonstrasi yang terus berlanjut.

Gelombang protes ini bukan tanpa sebab. Krisis ekonomi yang memburuk menjadi pemicu utama. Nilai tukar rial yang terus melemah membuat biaya hidup melonjak, sementara kemampuan beli masyarakat kian tergerus.

Dilansir Bloomberg, rial Iran sudah lama berada di bawah tekanan akibat sanksi Barat dan praktik korupsi sistemik yang menggerus kepercayaan terhadap perekonomian nasional. Tekanan tersebut memuncak pada akhir Desember 2025, ketika nilai rial anjlok sekitar 45 persen terhadap dolar AS.

Kondisi itu mendorong warga Iran mengalihkan tabungan mereka ke mata uang asing, emas, hingga properti demi menyelamatkan nilai aset. Gejolak mata uang juga diperparah oleh sistem nilai tukar bertingkat, di mana pemerintah memberikan subsidi impor barang tertentu kepada entitas tertentu. Skema tersebut dinilai membuka ruang korupsi dan memicu ketidakpuasan publik. 

Tekanan terhadap rial juga datang dari faktor eksternal. Sanksi yang berkaitan dengan program nuklir Iran membatasi ekspor minyak dan menghambat akses ke sistem perbankan internasional. Akibatnya, kemampuan Iran untuk memperoleh dan memindahkan devisa menjadi sangat terbatas.

Kondisi ekonomi Iran kian terjepit setelah harga minyak dunia melemah. Minyak mentah Brent tercatat turun 18 persen sepanjang 2025 menjadi sekitar USD 60 per barel. Angka ini jauh di bawah kebutuhan Iran untuk menyeimbangkan anggaran negara.

Berdasarkan perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Mei lalu, Iran membutuhkan harga minyak sekitar USD 165 per barel untuk mencapai titik impas anggaran.

Baca Juga : 20 Adegan Rekonstruksi Pembunuhan Wanita Open BO di Malang, Tersangka Tusuk Korban Lalu Minta Maaf

Di tengah gelombang protes tersebut, Presiden Masoud Pezeshkian angkat bicara. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah pada Minggu, ia menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang berada di balik kerusuhan.

Pezeshkian menyebut AS dan Israel ingin “menabur kekacauan dan ketidaktertiban” di Iran dengan memerintahkan “kerusuhan”. Ia juga menyerukan kepada warga Iran agar menjauh dari “perusuh dan teroris”.

Nada serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. Ia memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan”.

“Mari kita perjelas, jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita,” kata Qalibaf, mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Iran sendiri masih dibayangi konflik besar yang terjadi tahun lalu. Negara tersebut terlibat perang selama 12 hari dengan Israel dan Amerika Serikat setelah Israel melancarkan serangan mendadak pada Juni.

Dalam konflik itu, fasilitas nuklir Iran dibom oleh AS. Serangan tersebut menewaskan ratusan warga sipil, komandan militer, serta ilmuwan. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan ratusan rudal balistik ke kota-kota Israel, yang menyebabkan 28 orang tewas di pihak Israel.