Lahan Sawah di Kota Batu Bertambah 50 Hektare, Tapi Produksi Beras Justru Menyusut 143 Ton
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Nurlayla Ratri
14 - Jan - 2026, 12:53
JATIMTIMES – Sektor pertanian di Kota Batu menunjukkan tren yang unik pada tahun 2025. Berdasarkan berita resmi statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu hasil amatan Kerangka Sampel Area (KSA) menunjukkan terjadi anomali antara luas lahan yang dipanen dengan jumlah produksi gabah yang dihasilkan.
Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo membenarkan. BPS mencatat, bahwa luas panen padi di Kota Batu pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 553,28 hektare. Angka ini sebenarnya mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni bertambah sekitar 50,04 hektare atau naik 9,94 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya 503,25 hektare.
Baca Juga : Rumah Kompos Tekan Timbulan Sampah, DLH Surabaya Hemat Rp 6,73 Miliar Per Tahun
Namun, penambahan luas lahan tersebut tidak berbanding lurus dengan hasil produksi. Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) justru menyusut.
"Produksi GKG tahun 2025 diperkirakan sebanyak 3.410,09 ton. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 249,32 ton GKG atau merosot 6,81 persen dibandingkan produksi tahun 2024," ungkap Herlina dalam keterangannya.
Kondisi ini tentu berdampak langsung pada stok beras untuk konsumsi pangan penduduk di Kota Batu. Jika dikonversikan, produksi beras tahun 2025 diperkirakan hanya sebesar 1.969,04 ton. Jumlah tersebut berkurang sebanyak 143,99 ton beras dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang menembus 2.113,03 ton.
Penurunan paling mencolok terlihat pada periode Januari hingga September 2025. Pada kurun waktu tersebut, produksi padi jatuh di angka 23,80 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Bahkan, terdata pada bulan Maret dan September 2025, tidak ada produksi beras sama sekali di Kota Batu.
"Produksi beras tertinggi terjadi pada bulan Januari 2025, yaitu sebanyak 482,47 ton. Namun, untuk bulan Maret dan September memang tercatat nihil produksi," tambahnya.
Meski realisasi panen hingga September sempat melandai, BPS masih melihat adanya potensi pada sisa akhir tahun. Potensi luas panen pada Oktober hingga Desember 2025 diperkirakan masih ada sekitar 145 hektare dengan potensi produksi gabah sekitar 1.293,27 ton GKP. Saat ini, data tersebut masih diakumulasi.
Untuk diketahui, penghitungan data perkembangan GKP tersebut menggunakan metode KSA yang berbasis pengamatan objektif menggunakan citra satelit dan aplikasi khusus untuk memotret fase pertumbuhan padi di lapangan. Meski luas lahan baku sawah nasional telah diverifikasi ketat, tantangan produktivitas per hektare di tingkat lokal masih menjadi pekerjaan rumah agar kenaikan luas lahan bisa dibarengi dengan melimpahnya hasil panen.
Baca Juga : Rial Iran Ambruk, Warga Turun ke Jalan Protes Biaya Hidup
Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menyampaikan jika memang produksi padi Kota Batu masih hanya ditopang Kecamatan Junrejo. Terbanyak diketahui di Desa Pendem. Potensi penurunan diakuinya sangat memungkinkan dipengaruhi keterbatasan lahan sawah.
Potensi penurunan diakuinya sangat memungkinkan dipengaruhi keterbatasan lahan sawah. Selain itu, ada faktor cuaca yang turut berdampak.
"Ya, karena lahan sawah kita ini kan terbatas di Batu ini. Yang banyak itu kan lahan hortikultura kan. Lahan sawah ya di Junrejo ini yang yang kita tetapkan LSD-nya (Lahan Sawah Dilindungi). kalau produktivitas (menurun) mungkin karena cuaca," ungkap Heli terpisah.
Di sisi lain, Heli mengungkapkan sebagian petani di Junrejo juga menerapkan pertanian organik. Sehingga ia menganggap wajar jika potensi yang dihasilkan tak sebesar lahan yang didukung pupuk atau pestisida kimia. Hanya mengandalkan pola tanam yang masih diupayakan produktivitasnya semaksimal mungkin.
"Karena di sini ini ada varietas padi organik. Pola tanamnya tidak pakai pestisida kimia, atau kalau pakai juga perbandingannya sedikit," katanya.
