Harga Sayur Andewi di Kota Batu Anjlok hingga Seribu per Kilogram

Reporter

Irsya Richa

Editor

A Yahya

14 - Jan - 2026, 07:47

Yantoro saat memanen andewi di sawahnya, Rabu (14/1/2026). (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Harga sayuran andewi di tingkat petani kembali anjlok. Dalam beberapa pekan terakhir nyaris tak bernilai, hanya dihargai sekitar Rp 1.000 per kilogram, jauh dari angka yang mampu menutup biaya produksi petani.

Penurunan harga ini dipicu melimpahnya pasokan di pasar. Banyak petani menanam andewi secara bersamaan, sementara permintaan konsumen tidak sebanding dengan volume panen yang dihasilkan. Akibatnya, pasar dibanjiri stok dan harga pun tertekan tajam.

Baca Juga : Melihat Potensi Kota Kediri, Mbak Wali Gowes Bareng Wali Kota Madiun Maidi

Salah seorang petani Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Rindawati mengatakan anjloknya harga sayuran ini kerap terjadi. Namun, kondisi kali ini dinilai terlalu ekstrem dan merugikan petani.

“Kalau lagi mahal memang bisa tembus sampai Rp 35 ribu per kilogram, tapi itu jarang sekali terjadi. Yang sering justru harganya jatuh seperti sekarang,” ungkap Rindawati, Rabu (14/1/2026). 

Menurutnya, harga ideal tersebut hanya muncul pada momen tertentu, seperti saat pasokan terbatas. Selebihnya, petani harus bersiap menghadapi harga rendah yang tidak sebanding dengan biaya tanam dan perawatan. 

Dalam satu kali masa tanam, petani harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk bibit, pupuk, obat-obatan, hingga perawatan rutin. Nilainya bisa mencapai jutaan rupiah per petak lahan. Namun, dengan harga jual saat ini, hasil panen bahkan tidak cukup untuk menutup ongkos produksi, apalagi memberikan keuntungan. 

Hal serupa dialami Yantoro, petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. Ia menyebut, kondisi harga saat ini membuat hasil panen seolah tak ada artinya. “Sekarang harga andewi bisa dibilang tidak laku. Per kilonya cuma sekitar seribu rupiah. Kalau dijual satu kranjang penuh, paling hanya dapat Rp 50 ribu. Padahal biaya perawatan dari awal tanam sampai panen itu besar,” tegas Yantoro. 

Lesunya pasar juga berdampak pada volume penjualan. Pedagang pengumpul membatasi pembelian karena stok di pasar sudah menumpuk dan daya beli konsumen melemah. 

Baca Juga : Bupati Malang Tinjau Mesin Poles Beras Premium, Dukung Program Pengembangan Ketahanan Pangan

Situasi ini memaksa sebagian petani menunda panen, bahkan memilih membiarkan tanaman tetap di lahan untuk dijadikan bibit kembali, sebagai upaya menekan kerugian. 

Yantoro menambahkan, kondisi harga rendah ini telah berlangsung selama beberapa pekan dan belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Para petani pun berharap ada langkah konkret untuk membantu menstabilkan harga. 

“Kami berharap ada intervensi pasar, entah lewat penyerapan hasil panen, perluasan distribusi, atau kebijakan stabilisasi harga. Kalau terus seperti ini, petani bisa semakin tertekan dan sulit bertahan,” harap Yantoro.