SDN Tompokersan 03 (SUT) Lumajang menjadi salah satu peserta yang tampil memukau saat acara pawai karnaval Jumat (23/8) kemarin. Demi melakukan edukasi sejarah, sekolah ini menampilkan adegan perang Patih Nambi dengan pasukan Kerajaan Majapahit dengan 30 siswa lengkap dengan efek kebakaran.
Tak urung, jalan yang dilintasi penuh dengan asap membubung, ketika sendratari itu dimainkan oleh siswa-siswi SDN Tompokersan 3 (SUT) Lumajang.
Iskhak Subagio, salah seorang Komite Sekolah ini mengatakan, masyarakat harus tahu bahwa pada saat perang Patih Nambi dengan pasukan kerajaan Majapahit, ditandai dengan kebakaran besar, dimana pasukan Patih Nambi sengaja menjebak pasukan Majapahit dengan rumah-rumah dari jerami yang kemudian dibakar untuk membuat musuh ketakutan.
"Sampai sekarang desa tempat terjadinya perang itu diberi nama desa Kutorenon, yang artinya kota yang terbakar. Ini bukti bahwa sejarah Lumajang adalah sejarah perlawanan yang kuat, yang dipicu oleh sikap licik dan fitnah keji oleh Patih Halayuda," jelas Iskhak Subagio kemudian.
Melalui fragmen jalanan dalam bentuk sendratari ini diharapkan anak-anak, khususnya siswa SDN Tompokersan 03 (SUT)' dapat memahami sejarah Lumajang , sebagai motivasi untuk siswa-siswi sekolah itu agar tidak pantang menyerah melawan kebatilan.
SDN Tompokersan 03 Lumajang (SUT) selama ini memang serius dalam memberikan pemahaman sejarah termasuk masalah keagamaan. Saat ini SDN Tompokersan 03 (SUT) juga mewajibkan seluruh siswanya yang muslim untuk mahir baca Al Qur'an dengan program mengaji yang bekerja sama dengan lembaga As Sakinah
"Sekarang ini sudah ada beberapa siswa yang sudah Hafidz Qur'an walau belum 30 Juz. Saya yakin ke depan alumni sekolah ini akan ada yang hafal Alqur'an sampai 30 juz. Ini semua proses yang sedang kami lakukan, untuk mendidik anak-anak tetap teguh sendi-sendi agama dalam kehidupan," papar Iskhak Subagio kemudian.
