Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mewacanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan secara permanen dan hybrid. Wacana ini disampaikan Nadiem saat rapat kerja bersama dengan Komisi X DPR RI, Kamis (2/7/2020).

"Pembelajaran jarak jauh ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajaran jarak jauh pure saja, tapi hybrid model. Adaptasi teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi," kata Nadiem.

Baca Juga : Prodi Nuansa Bisnis dan Ekonomi Paling Diminati Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri

Wacana ini lantas menjadi topik hangat yang sedang ramai dibicarakan masyarakat karena menuai pro dan kontra. Berbagai pihak menilai, pelaksanaan PJJ secara permanen belum cocok untuk diterapkan di Indonesia, mengingat segala keterbatasan yang dimiliki. Bahkan, Tina Toon sebagai anggota DPR muda sempat ikut angkat bicara melalui instastory instagram miliknya.

"Terus smartphone, gadget, dan kuota internetnya semua dibayarin mas menteri? Kan gak semua masyarakat orang kaya. Kan ga semua masyarakat melek teknologi kayak di kota besar, yang pelosok-pelosok gimana," ungkap Tina Toon.

Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan Iwan Syahril pun meluruskan pemaknaan soal PJJ permanen tersebut.

"Yang saya simak dari diskusi atau pemaknaan tentang PJJ permanen ini seolah-olah PJJ-nya permanen full dalam online learning semua (tidak ada sekolah lagi). Ini yang perlu diklarifikasi," ucapnya dalam Bincang Sore di kanal YouTube resmi Kemendikbud.

Iwan menyampaikan, yang akan permanen adalah tersedianya berbagai platform PJJ. Baik yang bersifat daring dan luring, yang selama ini telah ada untuk mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar selama masa pandemi.

Sedangkan soal metode pembelajaran hybrid atau kombinasi pun nantinya juga bervariasi, bergantung kondisi di setiap daerah.

"Ada yang 10% online learning ada yang 90% tatap muka, ada yang mungkin 40% 60%, dan sebagainya. Itu tergantung sekolah, tergantung guru, dan lain sebagainya," terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Iwan juga menjelaskan metode flipped classroom (pembelajaran terbalik). Flipped classroom adalah pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran di dalam kelas dengan pembelajaran di luar kelas dengan tujuan untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran. 

Baca Juga : Pengamat Pendidikan Khawatir Guru Penggerak Lahirkan Orang Klaim Diri Paling Pancasilais

Aktivitas belajar yang biasanya dilakukan di kelas menjadi dilakukan di rumah. Sebaliknya, aktivitas belajar yang biasanya dilakukan di rumah menjadi dilakukan di kelas. Guru sebagai fasilitator mengemas materi pembelajaran dalam bentuk digital berupa video untuk dipelajari siswa di rumah sehingga siswa sudah lebih siap belajar ketika di kelas.

"Ternyata beberapa studi melihat bahwa ini (metode flipped classroom) bisa lebih bagus karena waktu yang dihabiskan ketika guru itu face to face dengan murid di dalam kelas itu justru hal-hal yang lebih produktif. Mereka (siswa) mengerjakan tugas, mereka berdiskusi, mengerjakan projek. Guru langsung bisa memberikan feedback (umpan balik) kepada murid-muridnya," paparnya.

Iwan menegaskan lagi, PJJ itu bukan berarti semuanya harus online.

"Jadi itu ada gradasinya, ada komponennya, dan itu nanti yang mungkin perlu didefinisikan oleh masing-masing guru. Karena yang terpenting adalah kita tahu bahwa dengan menggunakan teknologi, pembelajaran bisa menjadi lebih baik," pungkasnya.