Gubernur Jatim Khofifah
Gubernur Jatim Khofifah

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur mengalami kontraksi penurunan minus 5,9 persen pada semester dua tahun 2020. 

Untuk mengatasi permasalahan ini Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa berharap penyaluran bantuan sosial (bansos) mampu menjadi salah satu cara mengurangi dampak dari kontraksi ekonomi yang terjadi disaat pandemi Covid-19. 

Baca Juga : Perkuat Pilar Keistimewaan, Pemda DIY Nantikan Inovasi Dewan Kebudayaan

“Hari ini seluruh Jawa mengalami kontraksi ekonomi. Alhamdulillah meski Jawa Timur kontraksinya minus 5,9 ternyata adalah kontraksi terendah se-Jawa,” kata Khofifah saat membuka acara Pembinaan Pilar-Pilar Partisipasi Sosial dalam Rangka Penguatan Program Reformasi Perlindungan Sosial Memasuki Era New Normal di Kota Batu, Kamis (13/8/2020) malam. 

Khofifah meminta penyaluran bansos agar tepat waktu guna mengurangi adanya kontraksi ekonomi yang terjadi saat pandemi Covid-19. Khofifah menyebut bila penyaluran bantuan panganan tunai telat, maka akan berimplikasi pada kontraksi ekonomi. 

"Jadi apa yang sebetulnya menjadi kontributor terjadinya kontraksi ekonomi pertama adalah pengeluaran rumah tangga ini 59,4 persen. Kalau di-break down lagi, ternyata pengeluaran tertinggi untuk makan, minuman dan rokok ini sebesar 31,46 persen. Jadi kalau misalnya penyaluran bantuan panganan tunai itu telat, langsung kemudian berimplikasi kepada kontraksi ekonomi," tutur Khofifah. 

Karena itu, Khofifah mendorong agar koordinator PKH kab/kota, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) hingga pendamping lansia supaya tidak telat memberikan bansos kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Ia juga berharap bansos dari pemerintah kepada KPM bisa dibelanjakan untuk hal-hal yang sifatnya kebutuhan pokok masyarakat. 

Selain itu Khofifah meminta para pendamping PKH dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk menyampaikan bantuan yang diberikan hanya dibelanjakan untuk kebutuhan pokok atau kebutuhan paket data anak-anak guna bersekolah. 

"Saya minta tolong mungkin menjelaskan kepada KPM harus komprehensif, hari ini beli paket data kadang enggak ada duitnya. Jelaskan hari-hari ini bapak-bapak apakah mengikhlaskan untuk mengurangi atau menghentikan rokoknya, demi paket data putra putrinya yang sekolah," terangnya. 

Baca Juga : Uji Coba Masuk Sekolah 18 Agustus, Gubernur Khofifah: Berdasarkan Zonasi Wilayah Covid-19

Dalam acara ini, Khofifah juga mengkonsolidasikan para pendamping PKH dan TKSK Dinsos masing-masing kabupaten/kota untuk mensosialisasikan Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya soal disiplin dalam pemakaian masker. 

"Selain kita menyampaikan pentingnya update data dan ketepatan bansos. Saya juga berpesan kepada pendamping PKH, pendamping lansia dan TKSK bahwa jangan sampai ada KPM yang tidak pakai masker. Jangan sampai ada yang tidak percaya bahwa Covid-19 itu ada," tegas Khofifah. 

"Sampaikan kepada KPM untuk pakai masker. Saya sendiri dengan Pak Kadinsos Jatim sudah berkoordinasi bersama Kalaksa BPBD untuk menyalurkan masker. Insya allah kita punya 2 juta masker yang bisa diberikan ke KPM. Tapi jangan 1 KPM dikasih satu. Ya dihitung anggota keluarganya, nanti dikasih masker juga," imbuh dia.