Pak Kembang sosok penjaga makam Tamam Makam Pahlawan Makam Bahagia Turen, Kabupaten Malang, Jumat (14/8/2020). (Foto: Dok. JatimTimes)
Pak Kembang sosok penjaga makam Tamam Makam Pahlawan Makam Bahagia Turen, Kabupaten Malang, Jumat (14/8/2020). (Foto: Dok. JatimTimes)

Penjaga sebuah makam merupakan pekerjaan yang mulia ketimbang menjadi seorang pejabat yang melakukan korupsi dan merampas hak rakyat demi kepentingan segelintir kelompok penguasa. 

Kali ini, terdapat kisah seorang penjaga Taman Makam Pahlawan (TMP) Makam Bahagia, Desa Gunung Petung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang yakni pria paruh baya yang bernama Kembang berusia lebih dari 80 tahun. 

Baca Juga : Liburan Mewah ala Selebgram Rachel Vennya Sampai Jadi Trending di Twitter

Kembang pun menceritakan perjalanan awal mula ia menjadi penjaga sebuah makam pahlawan. Hingga selama 51 tahun ini dirinya tak mendapat bayaran tetap untuk pekerjaannya yang mulia tersebut. 

Awal mulanya pada 1967, Kembang mendapatkan amanah dari seorang kyai yang menyuruhnya agar merawat makam pahlawan tersebut.

"Saya di suruh salah satu kyai, karena waktu kyai itu mau meninggal, anaknya nggak mau meneruskan," ujarnya ketika ditemui awak media, Jumat (14/8/2020). 

Kembang mengungkapkan bahwa sosok kyai yang menyuruhnya tersebut, datang langsung ke rumah Kembang dengan menyuruh dirinya agar merawat makam yang pada saat itu masih berjumlah 100 makam dan terletak di tanah seluas 100 meter persegi. 

"Akhirnya saya mau mengurus karena tidak tega makam-makam pahlawan ini tidak terurus," ungkapnya. 

Kembang pun menjelaskan bahwa pada awal dirinya merawat makam tersebut, kondisinya sangat tidak terawat dan memprihatinkan. Banyak rumput-rumput tinggi dan ilalang yang sempat menutupi batu nisan makam para pahlawan tersebut.

"Alhamdulillah saya bersihkan sampai serapi ini sekarang," ucapnya. 

Berpuluh-puluh tahun, Kembang terus bekerja sebagai penjaga makam pahlawan tersebut tanpa mendapatkan bayaran atau gaji pokok per bulan sebagai upah untuk merawat makam pahlawan di Turen tersebut. 

Tetapi, Kembang pun mensyukuri atas semua yang diberikan oleh Tuhan. Baru-baru ini, dia mengaku mendapatkan bantuan beras dan uang dari departemen sosial. 

"Alhamdulillah baru-baru ini dapat bantuan beras dan uang dari departemen (dinas) sosial," tuturnya. 

Kembang menyebutkan bahwa dirinya sejak 2019 dirinya diberikan bantuan uang sebagai penjaga makam yang dirapel selama tiga bulan sekali. 

"Sejak 2019 ini diberikan Rp 750.000,- per tiga bulan. Rencananya tahun 2020 ini Rp 1.120.000,- per 3 bulan, tapi belum tahu bakal jadi atau tidak," ungkapnya dengan lugu. 

Berdasarkan penuturan Kembang, akhir-akhir ini dirinya juga mendapatkan bantuan beras dari pihak desa. "Sebelumnya tidak pernah dapat bantuan sama sekali," imbuhnya. 

Baca Juga : Santuy Banget! Aksi Pengendara Motor Berkaus Polisi Ini Bikin Heran Warganet

Yang menjadi pertanyaan, dengan upah yang dibayarkan selama tiga bulan sekali tersebut bagaimana Kembang menjalankan kehidupan sehari-hari? 

Kembang pun mengatakan bahwa dirinya akan menjadi buruh cangkul untuk membersihkan makam dan biasanya mendapatkan santunan dari peziarah yang datang ke Taman Makam Pahlawan Makam Bahagia Turen tersebut. 

"Kalau dari merawat makam tidak dapat gaji. Biasanya ada bantuan seikhlasnya dari warga dan peziarah. Selain merawat makam ini biasanya saya bekerja jadi buruh cangkul," terangnya. 

Hingga kini, telah terdapat 172 makam yang berada di areal Taman Makam Pahlawan Makam Bahagia Turen yang dirawat oleh Kembang. Setiap hari, mulai pagi hingga sore dirinya merawat ratusan makam dengan penuh keikhlasan.

Di lokasi yang sama, Komandan Koramil (Danramil) 0818/14 Turen, Kapten Inf Yuyud Hadi Purnomo mengapresiasi dan menghormati jasa-jasa yang telah diperbuat oleh Kembang selama puluhan tahun ini untuk merawat makam para pahlawan dengan penuh keikhlasan. 

"Mengenai Pak Kembang, apapun ceritanya bahwa dia berjasa kepada TMP," ungkapnya. 

Yuyud pun berharap kepada seluruh pihak, mulai dari jajaran pemerintah hingga masyarakat biasa agar menaruh kepedulian lebih terhadap sosok Kembang sebagai penjaga makam pahlawan. 

"Kalau hanya mengandalkan Koramil ya pasti ada batasnya juga," ujarnya. 

Yuyud mengatakan bahwa pihak koramil hanya bertugas untuk melakukan pemakaman secara militer. Terkait pemberian upah kepada Kembang itu upaya Koramil untuk mengapresiasi kerja Kembang.

"Tugas untuk perawatan atau memberikan honor penjaga makam adalah pada dinas terkait. Sedangkan Koramil hanya pemakaman dengan protokol-protokol kemiliteran," pungkasnya.