Salah satu adegan dalam film "Sinyal Nol Biji Nol". (Foto: Ilham for MalangTIMES)
Salah satu adegan dalam film "Sinyal Nol Biji Nol". (Foto: Ilham for MalangTIMES)

Senyum sutradara muda asal Malang, Ilham Fahmi Dzauqy merekah di layar kaca tatkala pembawa acara Vincent Rompies dan Desta melalui salah satu stasiun televisi swasta nasional mengumumkan bahwa filmnya mendapatkan juara 3 dalam sebuah kompetisi film bergengsi beberapa waktu yang lalu. 

Filmnya yang berjudul "Sinyal Nol Biji Nol" tersebut mendapatkan juara 3 dalam kompetisi film pendek Indiskop Festival.

Baca Juga : Film Ranah 3 Warna Segera Tayang, Adaptasi Novel Soal Kegigihan Raih Cita-Cita

 

Film itu dipilih oleh jajaran juri terkenal, mulai dari Hanung Bramantyo, Marcella Zalianty, hingga Hikmat Darmawan. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ilham. Meski demikian, ia mengaku sudah cukup senang filmnya ditonton, dikomentari, dan dikritik oleh para pesohor tersebut.

Tak heran jika film Ilham dipilih menjadi salah satu juara oleh juri. Sebab, kisah dalam film tersebut menyentil situasi dalam dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19 ini. Di mana, banyak kesulitan siswa yang harus menjalani pembelajaran secara daring.

Wartawan media ini pun diberi kesempatan oleh Ilham untuk menonton film "Sinyal Nol Biji Nol". Diceritakan dalam film tersebut, Tansah, siswa kelas 4 SD berumur 12 tahun bersusah payah mencari koneksi internet demi mengikuti upacara online di hari kemerdekaan Indonesia. 

Upacara itu sangat berarti baginya sehingga ia harus melibatkan pamannya, Andik, dalam usahanya mencari koneksi internet. Alih-alih membantu, Andik malah menimbulkan masalah baru. Namun, akhirnya untuk menyelesaikan masalah tersebut, Andik menemukan cara di luar dugaan.

Film tersebut dibalut dengan unsur komedi yang kental. Berbagai lawakan yang dilontarkan para aktor sukses membuat wartawan media ini tertawa terbahak-bahak. Kepada media ini Ilham mengaku memang ingin menghadirkan realita dunia pendidikan di masa pandemi ini dengan komedi.

"Ada banyak pendorong saya untuk membuat film ini. Beberapa di antaranya berita-berita misal tentang seorang bapak yang mencuri laptop untuk anaknya belajar, berita mengenai guru yang rela ke rumah siswanya satu persatu untuk mengajar, dan masih banyak lagi," sambungnya.

Selain itu, salah satu pendorong terbesarnya membuat film ini adalah "prestasi" Indonesia di tahun 2013-an silam. Saat itu, kecepatan koneksi internet Indonesia rata-rata tercatat hanya sebesar 1,5 Mbps. 

Angka tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat kedua terbawah di antara negara-negara Asia Pasifik dalam hal kecepatan koneksi internet rata-rata. Indonesia hanya lebih tinggi dari India yang mencatat angka 1,4 Mbps.

Masyarakat pun sempat mengeluhkan kondisi ini. Sementara Menkominfo saat itu malah berkelakar, "Memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?"

Baca Juga : Umumkan Para Pemain, F4 Versi Thailand Trending Twitter, Kapan Tayang?

 

"Menurut saya itu bom waktu. Dan sekarang akhirnya meledak (dengan adanya pandemi ini, di mana seluruh masyarakat, termasuk pelajar sangat membutuhkan internet)," timpalnya.

Terlepas dari isu penting yang ia angkat dalam film ini, Ilham mengemasnya dengan ringan, menyenangkan, dan penuh jokes. Salah satu inspirasinya adalah film Spongebob. Ia mengaku membuat naskah hanya dalam waktu satu hari.

"Kalau keseluruhan dari pra hingga pasca produksi 2 minggu-an," ungkap pria kelahiran 8 Agustus 1996 di Metro/Lampung Tengah tersebut.

"Sinyal Nol Biji Nol" bukanlah film pertama Ilham. Sebelumnya, ia juga sudah menyutradarai beberapa film dan sebagian memenangkan beberapa kompetisi, di antaranya adalah "Tenda Radit" (2018), "Kenali, Tentukan" (2018), dan "Tu-Man" (2019).

Karya-karya Ilham selama ini sebagian adalah film yang bisa dinikmati oleh semua usia, khususnya anak-anak. Meski demikian, ia pribadi mengaku hampir tidak pernah berniat atau bercita-cita untuk membuat film yang bisa dinikmati untuk anak-anak. Bahkan ia mengaku, film dengan talent anak sulit sekali pembuatannya dari sisi pra hingga produksinya.

"Dulu saya pribadi orangnya gak ramah anak hehe. Gak bisa tersenyum di dekat anak kecil. Saya sempat mengutuk diri saya sendiri untuk tidak mau menciptakan karakter anak pada cerita yang saya tulis setelah film Tenda Radit. Namun saya sadar itu salah. Seharusnya itu semua saya jadikan tantangan dan pencapaian tersendiri," kisahnya.

Bagi Ilham, mengarahkan akting untuk talent anak adalah pencapain level berbeda dalam directing. Akhirnya, sedikit demi sedikit ia mencoba merelakan jika memang cerita yang ia buat harus ada karakter anak dan membuat itu sebagai tantangan baru secara terus-menerus.