Monumen Tugu Trisula, saksi bisu penumpasan gerakan PKI di Blitar selatan
Monumen Tugu Trisula, saksi bisu penumpasan gerakan PKI di Blitar selatan

Keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) dicatat sebagai sejarah kelam bangsa Indonesia. Ya, sejarah telah menunjukkan bahwa PKI selalu berusaha merongrong kedaulatan NKRI. Tak hanya itu, PKI dalam perjalanannya juga berupaya menggulingkan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia. PKI ingin mengganti Pancasila dengan paham Komunisme sebagai ideology negara. 

Gerakan-gerakan PKI dalam merongrong kekuasaan tercatat sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dimulai dari dari peristiwa pemberontakan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Pemberontakan PKI kembali berlanjut pada peristiwa G30S/PKI tahun 1965 ditandai dengan gugurnya 7 perwira ABRI. Serangkaian pemberontakan tersebut dapat digagalkan dan diberantas sampai ke akar-akarnya.

Baca Juga : Tinggal di Gubuk Reot di Tengah Perbukitan, Nenek Tunanetra Ini Kaget Terima Uang dari Program Ngedum Ojir

Gagalnya pemberontakan tersebut nyatanya tak juga melunturkan semangat PKI dan antek-anteknya. Pada tahun 1968 mereka berusaha untuk bangkit kembali dengan Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) di Blitar Selatan. Daerah yang menjadi tanah harapan baru bagi PKI adalah di Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar. 

Dipilihnya Bakung sebagai tanah harapan karena wilayah Bakung yang terdiri dari hutan belantara dengan jalan setapak yang sulit dilalui pada jaman itu. Selain itu, daerah Bakung juga terdapat banyak gua-gua persembunyian. Serta latar berlakang pendidikan masyarakat pada waktu itu masih berpengetahuan rendah, menjadi kesempatan emas bagi gembong-gembong PKI untuk membangun kembali organisasinya yang telah runtuh dan menanamkan paham komunis-nya di wilayah Blitar Selatan. 

Gerakan PKI di Blitar selatan tersebut pada akhirnya terendus oleh pemerintah. Pemerintah menerjunkan pasukan Angkatan Bersentara Republik Indonesia (ABRI) ke Bakung dan gerakan PKI berhasil ditumpas. Tidak banyak yang tahu, keberhasilan ini salah satunya berkat kecerdikan seorang intelejen dari Batalyon 511/DY Blitar bernama Ruslan. 

Menurut Sukamto (55), warga asli Bakung yang sekarang menjadi juru kunci Monumen Tugu Trisula, PKI pertama kali datang ke Bakung sekitar tahun 1957.  Pimpinan rombongan PKI pada waktu iru bernama Suwandi. Untuk mengelabuhi warga lokal, PKI berdalih kedatangan mereka sebagai orang suruhan pemerintah. Dalam perkembangannya, Suwandi cs kemudian membentuk organisasi BTI (Barisan Tani Indonesia) untuk memperkuat perekonomian rakyat di sektor pertanian dan peternakan. 

“Namanya ya rakyat Bakung sini dulunya orang bodoh ya manut aja, tidak tahu tujuannya orang itu tadi apa ya disuruh apa aja ya nurut. Akhirnya ternyata masyarakat dibohongi, jadi sejak tahun 1957, selama 10 tahun oleh Suwandi dikuasai dimana-mana dan ekonomi kuat, disini sudah tersedia sandang, pangan, papan. Akhirnya para gembong PKI itu tadi berbondong-bondong kesini, papannya yang digunakan ya rumah-rumah penduduk itu tadi. Boleh di tempati ya dia dan keluarganya selamat, gak boleh ditempati ya disiksa dibunuh,” ujar lelaki yang akrab disapa Pak Kamto kepada BLITARTIMES. 

Mendengar berita tersebut pemerintah pun tidak tinggal diam, intel-intel TNI disebar ke warung-warung sebagai pedagang untuk menggali informasi tentang gerak-gerik PKI di Blitar selatan. Namun setelah beberapa bulan berselang mereka tidak mendapatkan informasi yang diinginkan, nahasnya lagi dikabarkan ada yang diculik para gembong PKI dan nasibnya tidak diketahui.

Penelusuran para intel TNI menemui titik terang ketika ada salah seorang warga Bakung bernama Kusno yang melarikan diri dari kekejaman PKI yang merampas dan membantai keluarganya. Ketakutan hebat yang dialaminya memaksa ia untuk melarikan diri berjalan kaki dari Bakung sampai ke wilayah Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro. Sesampainya di sana karena rasa lapar dalam pelarian berhari-hari, dia mencuri makanan milik warga sekitar. Namun akhirnya Kusno tertangkap oleh salah seorang Intel TNI dari Yonif 511/DY bernama Ruslan.

Setelah digali motif pencurian serta informasi tentangnya, Kusno bercerita tentang kekacauan dan kecamuk pembrontakan yang terjadi di daerahnya. Akhirnya, bersama dengan Kusno, Ruslan ditugaskan menjadi pasukan telik sandi yang dikirim oleh pihak TNI untuk menelusuri kekacauan di Bakung yang diduga dimotori oleh gembong-gembong PKI. Mengingat sebelumnya intel-intel yang dikirim oleh Yonif 511/DY bernasib naas bahkan gugur karena kelicikan PKI yang telah menguasai wilayah Blitar selatan, Ruslan dengan cerdik menyamar sebagai orang gila dengan rambut gimbal dan pakaian lusuh compang camping.

Baca Juga : Ngemut Gulo Hingga Gatheng, Kebiasaan Masa Kecil Bocah Tulungagung yang Mulai Punah

Dengan kecerdikannya, Ruslan yang hanya berbekalkan daun pisang dan sebatang lidi masuk ke zona merah jantung pertahanan PKI di Bakung dan mulai memetakan pergerakan yang disusun oleh gembong-gembong PKI dan para pendukungnya. Selain membuat sandi pemetaan wilayah, Ruslan juga menelusuri rumah-rumah warga yang diduga digunakan sebagai markas oleh gembong-gembong PKI untuk merancang setrategi pergerakan.

 Setelah sekitar sebulan menyamar sebagai orang gila untuk menggali informasi tentang pergerakan PKI di wilayah Blitar selatan dirasa sudah cukup, Ruslan kembali ke markas Yonif 511/DY dan menyampaikan apa saja kegiatan yang dilakukan kalangan musuh di Bakung dan wilayah-wilayah sekitarnya.

Berbekal informasi yang diperoleh Intel Ruslan, pemerintah tidak tinggal diam. Serangkaian strategi dan program operasi digagas untuk memberantas gerakan PKI di Blitar selatan. Pada bulan Februari Sampai dengan Juni 1968 telah dilaksanakan operasi intel dan operasi teer secara gabungan. Selama proses operasi ini dilaksanakan memang cukup berhasil, namun belum sepenuhnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pimpinan. Di daerah-daerah lain aksi-aksi PKI semakin menjadi, terutama di daerah Blitar selatan, Malang selatan, Kabupaten Tulungagung dan sekitarnya.

Menanggapi maraknya aksi nyata PKI di sejumlah daerah, pemerintah Orde Baru melalui Kodam V/Brawijaya kemudian membentuk Satgas TRISULA  pada 18 Mei 1968. Operasi Trisula dimulai pada 8 Juni 1968 dengan melibatkan  ABRI, Wanra, Kamra, serta petugas Ronda Desa dari Kabupaten Blitar, Kediri, Tulungagung, Nganjuk dan Malang sebanyak ± 14.000 orang.

“Jadi selama 2 bulan seluruh sektor Blitar Selatan ini dikepung dengan Operasi Pagar Betis dari segala penjuru. Jarak antara pasukan paling sekitar lima meter sepanjang 80 KM bersama-sama bergerak menuju selatan sampai mencapai pesisir samudra laut sana. Didepannya ada pasukan gerak cepat yang masuk ke rumah-rumah warga tadi dan menelusuri goa-goa, kayak di mbultuk dan sekitarnya itu tadi,” sambung Kamto.

Operasi Trisula di Blitar selatan berjalan sukses luar biasa. Dikatakan luar biasa karena merupakan operasi terpanjang dalam catatan sejarah Indonesia. Hasilnya organisasi PKI baik taktis maupun moril bisa dilumpuhkan dan diberantas hingga ke akar-akarnya.