Deti-detik M Yunus dimasukan tahanan Mapolresta Banyuwangi. (Foto: Nurhadi/BanyuwangiTIMES)
Deti-detik M Yunus dimasukan tahanan Mapolresta Banyuwangi. (Foto: Nurhadi/BanyuwangiTIMES)

Kasus penjemputan paksa jenazah pasien Covid-19 di Banyuwangi oleh aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), M Yunus Wahyudi berlanjut. Setelah ditahan, kini status M Yunus ditetapkan naik menjadi tersangka. 

Seperti diketahui, sosok M Yunus viral di media sosial karena tindakannya menjemput paksa pasien meninggal di RSUD Genteng yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Baca Juga : Polisi Tambah Dua Tersangka Pelaku Perusakan saat Demonstrasi Tolak UU Cipta Kerja di Malang

Selama ini, dia dikenal sebagai aktivis kontroversial karena menyuarakan antimasker di tengah aturan pemerintah agar warga memakai masker untuk menekan penyebaran Covid-19. 

Meski ditahan, M Yunus mengaku tegar dan menyadari penuh konsekuensi dari tindakannya. “Amar makruf nahi mungkar,” demikian pesan yang dikirim M Yunus lewat WhatsApp (WA). Pesan itu ditujukan kepada para Kyai, Gus, LSM, media dan semua kolega saat pamit untuk masuk penjara karena merasa dikriminalisasi.

Pesan yang ditulis Yunus dan dikirim lewat WA dilakukan di sela menjalani pemeriksaan di Mapolresta Banyuwangi pada Selasa (13/10) mulai pukul 13.00 WIB. Dia yang awalnya sebagai saksi terlapor dan akhirnya ditetapkan tersangka oleh penyidik Polresta Banyuwangi.

Muhammad Sugiono, kuasa hukum M Yunus, kepada sejumlah wartawan mengungkapkan  awalnya M Yunus diperiksa sebagai saksi terlapor. Menurutnya, saat itu sudah ada komitmen dengan penyidiknya. 

Setelah gelar perkara, baru status saksi tadi berubah menjadi tersangka. Dia menuturkan polisi sudah profesional dalam menangani perkara ini, selama proses penyidikan tidak ada intimidasi dan tidak ada tekanan. 

Bahkan kliennya juga sudah mengakui bahwa semua yang ada dalam statemen di medsos dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) nya sudah sesuai.

"Hanya satu sebetulnya yang menjadi ganjalan, dalam statemennya Yunus menerangkan ketemu dengan dokter Rio dan Bupati. Tapi dalam keterangan dokter Rio, dia tidak pernah ketemu sama sekali dengan Yunus. Di situ itulah yang menjadi tolak perkara ini dari status saksi langsung naik ke tersangka," terangnya.

Baca Juga : Minta Jaminan Keamanan, Puluhan Wartawan Datangi Kapolresta Banyuwangi

"Langkah yang akan kami dilakukan, dia (Yunus) punya hak untuk mengajukan penangguhan penahanan. Mungkin kami besok bersama rekan-rekan akan membuat surat pengajuan penangguhan," tambahnya.

Sementara itu, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Arman Asmara Syarifudin membenarkan bahwa M Yunus Wahyudi ditetapkan tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan. 

Tersangka dijerat kasus UU ITE terkait dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan unggahan video viral yang dianggap membuat gaduh dan resah masyarakat di tengah pandemi Covid-19. 

Selain itu, tersangka juga dijerat dengan Pasal 93 UU RI nomor 6 tahun 2013 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

"Tersangka dijerat dengan pasal 14 ayat 1 dan 2 Undang-undang (UU) nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana dan pasal 45 huruf a Jo pasal 28 UU Nomor 19 tahun 2016 ITE dan pasal 93 UU nomor 6 tahun 2013 tentang Kekarantinaan Kesehatan," jelas Arman.