Pengrajin anyaman bambu di Jln Sawo, Dusun Dero Lor, Desa Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, masih bertahan dan terus berkarya di tengah pandemi Covid-19.
Dampaknya sangat telak dirasakan oleh dunia usaha, terlebih terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Untuk menjamin kesejahteraan kegiatan perekonomian di masyarakat harus mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi saat ini, supaya bisa bertahan pada masa pandemi Covid-19.
Baca Juga : Imbas Penutupan Toko Modern di Tulungagung, Duka bagi Ratusan Karyawan
Di mana keadaan ekonomi serba belum pasti, oleh karena itu masyarakat dituntut untuk kreatif menghadapi tuntutan ekonomi.
Salah satunya adalah Parji pelaku UMKM di Desa Dero. Pengrajin anyaman bambu ini telah menggeluti usahanya selama 10 tahun, sehingga menjadikan icon industri rumahan berbasis kearifan lokal bagi desanya. Kerajinan anyaman bambu seperti lampion, siluet bambu, hiasan dinding, tas, miniatur, serta aksesoris lainnya hasil karyanya cukup terkenal di kalangan masyarakat baik dalam dan luar Kabupaten Ngawi.
“Selama pandemi Covid-19, omset penjualan kerajinan yang saya buat menurun, dibandingkan sebelum ada Covid-19. Meskipun harga yang kita tawarkan relatif murah dan terjangkau namun masih sepi pembeli,” ucapnya.
Untuk harga lampion yang paling murah ia jual mulai dari harga 20.000 ribu/buah dan paling mahal Rp 100.000 ribu/buah. Untuk miniatur ia jual mulai dari harga Rp 30.000 ribu sampai 150.000 ribu.
“Setiap hari kita bisa memproduksi lima jenis anyaman dari bambu dan kita terus produksi tiap hari agar punya stok, proses penjualan kita melalui offline dan online seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram @Karmaji_,” imbuhnya.
Baca Juga : Pandemi Covid-19, Angka Pernikahan di Kabupaten Blitar Alami Penurunan
Ia mengaku tak kesulitan untuk mendapatkan bahan bambu apus Jawa. Untuk menjaga kualitas, produknya pun telah melalui proses finishing yang baik khususnya untuk menghindari rayap, bubuk, jamur agar kualitas produk kita awet dan tahan lama.
