Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Pelajaran Ekonomi dari Rasulullah SAW Saat Inflasi dan Harga Melambung

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

09 - Jun - 2026, 11:13

Placeholder
Ilustrasi saat umat Rasulullah berdiskusi menanggapi kenaikan harga kebutuhan yang mahal dimasa itu (ist)

JATIMTIMES - Ketika harga kebutuhan pokok melonjak, tuntutan agar pemerintah turun tangan mengendalikan pasar hampir selalu muncul. Fenomena ini ternyata bukan hal baru. Pada masa Nabi Muhammad SAW, masyarakat Madinah juga pernah menghadapi situasi serupa ketika harga barang mengalami kenaikan dan memicu keresahan di kalangan penduduk.

Dalam kondisi tersebut, sejumlah sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan meminta beliau menetapkan harga agar kenaikan yang terjadi tidak semakin membebani masyarakat. Permintaan itu muncul karena harga barang di Madinah saat itu terus meningkat.

Baca Juga : 6 Jurusan Kuliah yang Banyak Dipilih Miliarder Dunia, Ada yang Bisa Jadi Inspirasi Calon Mahasiswa

Seorang sahabat menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, barang-barang di kota Madinah mengalami kenaikan harga, akhirnya itulah harga.”

Namun, Nabi Muhammad SAW tidak mengambil langkah menetapkan harga secara langsung. Beliau justru memberikan penjelasan yang menekankan pentingnya keadilan dan menghindari tindakan yang berpotensi merugikan salah satu pihak dalam aktivitas ekonomi.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorangpun dari kalian yang menuntutku menyebabkan kezalimanku dalam darah maupun harta.” (HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak serta-merta melakukan intervensi terhadap mekanisme harga yang terbentuk di pasar. Bahkan ketika kembali diminta untuk menentukan harga, beliau tidak mengabulkannya dan justru mengarahkan para sahabat untuk berdoa kepada Allah SWT.

Sikap Nabi Muhammad SAW ini kerap menjadi rujukan dalam pembahasan ekonomi Islam, khususnya mengenai hubungan antara mekanisme pasar dan peran otoritas dalam aktivitas perdagangan. Dalam hadits tersebut, Rasulullah memberikan ruang bagi terbentuknya harga secara alami, selama transaksi berlangsung secara adil dan tidak mengandung unsur kezaliman.

Prinsip tersebut juga diperkuat dengan dorongan agar pelaku usaha menjalankan perdagangan secara jujur dan amanah. Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang jujur dan amanah (terpercaya) akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang syahid pada hari berakhir di Surga.” (HR Ibnu Majah).

Baca Juga : Tiket Konser BTS di Jakarta Resmi Dijual, Simak Jadwal Penjualan, Harga hingga Keuntungan Tiap Kategori

Pandangan mengenai kebijakan Rasulullah SAW tersebut turut dibahas oleh cendekiawan Muslim sekaligus pakar ekonomi Islam, Afzalurrahman, dalam bukunya Nabi Muhammad Sebagai Seorang Pedagang. Menurutnya, keputusan Nabi untuk tidak menetapkan harga merupakan kebijakan penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas perdagangan dan perniagaan.

Afzalurrahman menilai penetapan harga secara paksa berpotensi menghambat pergerakan perdagangan yang menjadi salah satu penggerak perekonomian. Karena itu, kebebasan pasar tetap diberikan selama tidak terjadi praktik yang merugikan masyarakat.

Ia juga mengaitkan persoalan inflasi dan lonjakan harga dengan persoalan yang lebih luas dalam sistem ekonomi. Menurut Afzalurrahman, kenaikan harga yang sangat tinggi tidak semata-mata disebabkan oleh kelangkaan barang, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh sistem moneter berbunga serta praktik manipulasi yang dilakukan pihak-pihak tertentu demi kepentingan mereka sendiri.

Dalam pandangannya, inflasi merupakan akibat dari sistem ekonomi yang tidak berjalan secara alamiah. Afzalurrahman menulis, “Kita menuai hasil dari apa yang telah kita semaikan. Inilah beberapa pengaruh buruk dari sistem ekonomi yang tidak alamiah dalam kehidupan kita.”


Topik

Agama Rasulullah Muhammad nabi Muhammad Madinah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Ngawi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya