JATIMTIMES - Lima siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kota Malang tidak sekadar menghafalkan dialog berbahasa Inggris ketika mengikuti Mini Drama Competition tingkat Jawa Timur. Mereka ditantang mengubah gagasan tentang budaya lokal dan kepedulian lingkungan menjadi sebuah karya audiovisual yang memiliki cerita, karakter, konflik, hingga pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Karya tersebut dikemas melalui mini drama berjudul “The Mask and The River”, yang diperankan oleh Aorta, Bumi, Gibran, Kayana, dan Karin. Kelimanya merekam penampilan mereka di Auditorium MAN 2 Kota Malang, Kamis (20/8/2026), untuk selanjutnya dikirimkan sebagai salah satu persyaratan kompetisi yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur.

Kompetisi tersebut mempertemukan madrasah dari berbagai jenjang, mulai Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kerja Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 sekaligus rangkaian Expo Madrasah se-Jawa Timur Tahun 2026.
Baca Juga : Musda VII Demokrat Jatim: Emil Dardak Siap Lanjutkan Kepemimpinan
Yang membuat karya siswa MIN 1 Kota Malang menarik bukan hanya penggunaan bahasa Inggris dalam dialog. Mereka mengangkat Topeng Malangan sebagai pintu masuk untuk membicarakan hubungan manusia dengan alam. Tradisi yang selama ini dikenal sebagai bagian dari identitas budaya Malang itu ditempatkan dalam sebuah cerita yang dekat dengan persoalan lingkungan.
Cerita berpusat pada Aldo dan teman-temannya yang bersiap mementaskan tari Topeng Malangan dalam festival bersih desa. Persoalan muncul ketika Aldo dihantui ketakutan akibat berbagai rumor mistis yang berkembang di tengah masyarakat.
Konflik tersebut kemudian menjadi ruang bagi karakter Aldo untuk berkembang. Ia perlahan menghadapi ketakutannya dan memahami bahwa di balik tradisi yang diwariskan secara turun-temurun terdapat pesan yang jauh lebih penting.
Topeng Malangan dalam cerita itu tidak berhenti sebagai tontonan budaya. Para siswa menghubungkannya dengan pesan leluhur mengenai kewajiban menjaga sungai dan menghormati alam. Dari sana, tradisi lokal ditempatkan sebagai bagian dari persoalan kehidupan yang masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Koordinator sekaligus guru Bahasa Inggris MIN 1 Kota Malang, Fitri Nur Laily, M.Pd., mengatakan proses tersebut menjadi bagian dari Program Kerja Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 dan rangkaian Expo Madrasah se-Jawa Timur.
“Ini merupakan Program Kerja Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur 2026 dan menjadi rangkaian Expo Madrasah se-Jawa Timur tahun 2026,” ujar Fitri.
Menurut Fitri, kekuatan cerita yang dibangun siswa terletak pada upaya menyampaikan pesan melalui sebuah pertunjukan. Para siswa tidak hanya diarahkan untuk mampu memainkan karakter dan menggunakan bahasa Inggris, tetapi juga memahami gagasan yang berada di balik cerita.
“Kami berharap cerita singkat ini dapat menyentuh hati dan menginspirasi kita semua untuk menjaga lingkungan sekaligus melestarikan tradisi lokal,” ungkapnya.
Baca Juga : KKN Unisba Blitar Perkuat Pelestarian Sumber Air Bersejarah di Desa Gledug
Proses menghasilkan karya tersebut juga tidak berlangsung secara instan. Sebelum perekaman, kelima siswa menjalani latihan secara intensif dengan pendampingan guru Bahasa Inggris dan guru Seni Budaya MIN 1 Kota Malang.
Pendampingan dilakukan oleh Fitri Nur Laily, M.Pd., Nian Andini, S.Pd., Nur Zahidah Khoiriyah, S.Pd., dan Rahayu Trisnani, M.Pd. Latihan tidak hanya diarahkan pada penguasaan dialog, tetapi juga kesiapan siswa dalam memainkan karakter dan membangun alur cerita.
Proses perekaman di Auditorium MAN 2 Kota Malang menjadi tahap penting karena karya yang dikirimkan kepada panitia kompetisi bukan sekadar dokumentasi penampilan. Video tersebut menjadi medium bagi para siswa untuk menerjemahkan hasil latihan, kemampuan berbahasa Inggris, seni peran, dan gagasan mereka ke dalam sebuah karya film mini drama.
Di usia sekolah dasar, kelima siswa tersebut sudah diperkenalkan pada proses kreatif yang menuntut mereka bekerja sebagai sebuah tim. Mereka harus memahami peran masing-masing, menjaga alur cerita, menghidupkan karakter, sekaligus menyampaikan pesan melalui ekspresi dan dialog.
Pilihan menggabungkan Topeng Malangan dengan isu sungai juga memperlihatkan bagaimana siswa dapat mengolah kekayaan budaya di lingkungan sekitarnya menjadi cerita baru. Tradisi tidak ditempatkan sekadar sebagai latar, melainkan menjadi bagian penting dari konflik dan pesan yang dibangun dalam “The Mask and The River”.
Melalui karya itu, kemampuan siswa dalam bahasa Inggris bertemu dengan seni pertunjukan dan kreativitas audiovisual. Cerita tentang Aldo, festival bersih desa, Topeng Malangan, serta sungai menjadi satu rangkaian yang membawa penonton melihat bahwa warisan budaya juga dapat menjadi media untuk menyampaikan kepedulian terhadap lingkungan.
