Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Melestarikan Batik Khas Tulungagung Lewat Goresan Cethe

Penulis : Sutrimo - Editor : Heryanto

21 - Apr - 2017, 17:09

Placeholder
Ali Fikri saat menyelesaikan pesanan cethe motif batik salah satu pelanggan. Kamis, (19/4/2017). (Fofo : Faqih/Tulungagung TIMES)

Tulungagung tidak hanya terkenal dengan ribuan warung kopinya saja. Hal yang lebih menarik dan unik, kota ini memiliki beragam varian kopi dan cara penyajian.

Kopi panas yang disajikan di atas meja, sudah pasti kurang lengkap jika tidak ditemani beberapa batang rokok.

Ada tradisi unik dan membudaya di masyarakat Tulungagung untuk menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Masyarakat Tulungagung menyebutnya dengan istilah cethe atau nyethe.

Tradisi ini awalnya lahir dari  tradisi santri di salah satu pesantren yang menikmati rokok supaya lebih awet maka rokok diolesi ampas kopi, atau lebih dikenal cethe.

Kebiasaan ini pun kemudian menyebar luas dan tidak sebatas  pada kalangan santri. Mayarakat umum pun juga turut melestarikan tradisi ini.

Awalnya cethe hanya dimaksudkan supaya rokok menjadi awet. Namun dalam perkembangannya tradisi ini dijadikan sarana untuk melukis berbagai motif lukisan.

Tradisi nyete ini juga sering dijadikan ajang perlombaan dari berbagai kalangan. Ali Fikri (23) adalah salah satu orang yang sering mengikuti perlombaan nyethe yang sering digelar di Tulungagung.

Lelaki lajang asal Desa Plosokandang Kecamatan Kedungwaru ini telah berulang kali mengikuti perlombaan dari tingkat lokal sampai kabupaten, dan tidak jarang memperoleh juara.

Kepiwaian Ali dalam hal nyete sudah ia mulai sejak kecil. Berawal dari hobi menggambar diatas kertas, Ali mencoba media lain untuk menelurkan imajinasinya yaitu menggambar batik pada batang rokok.

“Saya belajar nyete sejak kelas 5 SD. Dulu awal mula belajar nyete karena melihat kakak saya yang asyik menghias rokoknya dengan lethek kopi” terang Ali kepada TulungagungTIMES, Kamis (20/04/17)

Dengan bekal hobi menggambar dan keseriusannya, Ali tidak butuh waktu lama untuk menguasai teknik membuat sebuah karya yang memiliki nilai estetik.

Ali semakin berani mengeksplorasi idenya. Motif batik jarik kawung dan bunga-bunga ia pelajari sebagai wujud rasa cintanya pada warisan leluhur.

Tak ayal, hal ini membuat membawa Ali kepada predikat juara dalam lomba-lomba yang ia ikuti.

Dari beberapa motif batik yang ia kuasai terisinpirasi dari motif jarik neneknya yang mengingatkannya pada kehangatan si nenek.

“Inspirasi ini muncul dari beberapa jarik nenek saya yang membawa kedamaian, saya selalu jadi ingat nenek saya” ujar Ali.

Keahlian nyete rokok dengan motif batik yang Ali miliki juga mendatangkan rizqi tersendiri. Ali sering memperoleh pesanan nyethe rokok motif batik dari beberapa kenalan maupun orang yang mengenalnya.

Untuk ongkos jasa nyethe satu bungkus rokok, Ali tidak memasang tarif. Namun biasanya pelanggan memberi uang jasa kisaran lima belas sampai dua puluh ribu untuk satu bungkus rokok.

Nyethe dengan motif batik juga Ali maksudkan sebagai wujud ekspresi cintanya pada Indonesia. Ali berkeinginan melestariakan batik khas Tulungagung dengan media cethe.

“Berbicara Tulungagung, Tulungagung itu tanpa cete Hampa!, Berbicara Indonesia tidak akan bisa lepas dari batik. Mari petahankan warisan batik dengan media apapun!” pungkas Ali.


Topik

Agama Batik-Khas-Tulungagung-Goresan-Cethe



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Ngawi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Sutrimo

Editor

Heryanto

Agama

Artikel terkait di Agama