Rumah Pahlawan PETA dari Blitar, Shodancho Soeprijadi belum banyak diketahui publik. Padahal, rumahnya berada di tengah kota Blitar tepatnya di Jalan Sudanco Supriyadi nomor 46, Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.
Tampak depan bangunan, berciri khas model bangunan kolonial belanda masih kental yang masih belum mendapat renovasi. Sekitar halaman terlihat berdebu dan ada ranting-ranting pohon berserakan di halaman tak sempat dibersihkan.
Namun ironisnnya bertepatan dengan momen HUT Pemberontakan PETA ke-74, keluarga Soeprijadi yang masih hidup dan menempati rumah tersebut justru menjual rumah keluarga sang pemimpin pemberontakan PETA yang legendaris itu. Di depan halaman rumah terpampang papan pengumuman bertuliskan 'Dijual SHM 856 M2'.
Belakangan, rumah itu dihuni oleh Suroto, (80), yang merupakan adik tiri Soeprijadi. Suroto adalah adik tiri dari sesama Ayah beda Ibu. Ayah mereka, Raden Darmadi adalah Bupati Blitar ke 9. Rumah ini dibeli oleh bapak mereka, Raden Darmadi (Bupati Blitar ke 9), yang waktu itu menjabat sebagai jaksa di Kediri sekitar tahun 1933. Sedang rumah dirawat abdi dari bapak mereka untuk menempati rumah, supaya jangan sampai kosong agar rumah bersih untuk ditinggali saat keluarga berkunjung di Blitar. Dan Bapak mereka tahun 1933 tugasnya berada di wilayah Nganjuk. Sedang Supriadi keci pada waktu itu ikut Darmadi dan sekolah di daerah bapaknya berdinas.
Supriadi kembali ke Kota Blitar sekitar tahun 1940an. Waktu itu dia masuk sebagai tentara PETA dan bermukim tiga tahun di pantai Serang antara tahun 1942 hingga 1945. Di Pantai selatan jawa itulah Supriadi menemukan inspirasi perjuangan pemberontakan PETA setelah melihat kaumnya sendiri menderita oleh penjajah Jepang dengan dijadikan romusha.
“Benar ini rumah Soeprijadi, rumah keluarga sebenarnya. Karena waktu itu Soeprijadi tidak pernah tinggal di sini sebab keluarga mulai dari bapak kita pak Darmadi dan anggota keluarga baru pindah ke sini tahun 1956 dan Soeprijadi meninggal tahun 1945 saat memimpin pemberontakan tentara PETA melawan Jepang,” terangnya.
Di dalam rumah keluarga Soperijadi tertampak cukup luas. Rumah nuansa bangunan belanda lawas itu terdiri dari enam kamar. Ada tiga kamar berukuran kecil, juga terdapat tiga kamar utama yang berukuran lebih besar. Salah satu kamar itu adalah kamar Raden Darmadi, nampak di dalamnya masih menyimpan barang-barang milik Raden Darmadi seperi sepatu, jas, baju dan perabotan lainnya.
Suroto menceritakan, ketika terjadi peristiwa pemberontakan tentara PETA, ia masih berusia enam tahun. Dia juga mengaku hanya beberapa kali saja bertemu dengan kakaknya Soeprijadi. Kala peristiwa berlangsung, Ayahnya bersama Soeprijadi yang bernama Darmadi tengah bertugas di Nganjuk sebagai Patih. Namun, pasca peristiwa pemberontakan, Darmadi pindah tugas ke Blitar sebagai Bupati Blitar, menggantikan Bupati Samadikun.
"Setelah pemberontakan Peta, bapak dipindah menjadi Bupati Blitar, tepatnya pada Oktober 1945. Bapak menggantikan bupati sebelumnya, Samadikun," tuturnya.
Suroto menjelaskan, ayahnya dulu menikah dua kali. Pernikahan pertama dengan Rahayu, mempunyai anak dua yakni, Soeprijadi dan Wiyono. Saat melahirkan anak ke- 2, Rahayu meninggal.
Sedangkan bersama istri kedua bernama Susilih, Darmadi mempunyai 11 anak termasuk Suroto. Suroto merupakan anak Darmadi ke tujuh. Kini, saudara-saudaranya sudah banyak yang tua, bahkan ada beberapa yang sudah meninggal.
Berangkat dari realitas itu, dia berniat menjual rumah ayahnya dengan maksud supaya tidak ada persoalan keluarga terkait pembagian waris dari rumah tersebut. Perihal penjualan rumah, dia mengaku akan dikelola oleh keponakan-keponakannya yang masih muda. "Soal itu saya serahkan ke keponakan yang masih muda-muda. Saya tidak mengurusi, saya juga tidak tahu ditawarkan berapa," katanya.
Dihubungi terpisah, Plt Wali Kota Blitar Santoso mengaku ingin membeli rumah bersejarah peninggalan keluarga Sudanco Supriyadi itu. Sebab, selain lokasi yang strategis dengan monumen PETA, juga akan dijadikan museum PETA jika kelak jadi membeli rumah tersebut. Hanya saja dia mengaku akan melihat ada anggaran untuk membeli rumah bersejarah Sudanco Supriyadi itu.
"Kalau bisa dibeli Pemkot lebih bagus, rumah itu juga punya sejarah. Kami bisa menjadikan rumah itu untuk museum. Lokasinya juga berdekatan dengan monumen Peta. Nanti kami coba bernegosiasi dengan keluarga pemilik rumah. Kalau ada anggaran kami akan membelinya," kata Santoso.
