JATIMTIMES - Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei dikabarkan mengalami luka setelah serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Meski demikian, sejumlah sumber menyebutkan bahwa kondisinya masih selamat dan sadar.
Kabar mengenai luka yang dialami Mojtaba pertama disampaikan oleh Yousef Pezeshkian, putra Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang juga dikenal sebagai penasihat pemerintah.
Baca Juga : Heboh Abu Janda Ngamuk di Talkshow, Maki Feri Amsari hingga Diusir dari Acara
“Saya mendengar kabar Bapak Mojtaba Khamenei terluka. Saya sudah menanyakan hal ini kepada beberapa teman yang mengetahui situasinya. Mereka mengatakan kepada saya, syukurlah dia selamat dan dalam kondisi baik,” ujar Yousef, seperti dikutip dari laporan AFP, Rabu (11/3).
Sebelumnya, televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Mojtaba mengalami luka dalam apa yang disebut sebagai “perang Ramadan”. Namun laporan tersebut tidak menjelaskan secara rinci jenis luka yang dialaminya.
Sementara itu, media Amerika Serikat The New York Times mengutip tiga pejabat Iran yang mengetahui situasi tersebut. Menurut mereka, Mojtaba mengalami beberapa luka, termasuk pada bagian kaki.
“Dia mengalami luka, termasuk di bagian kaki. Namun dia tetap sadar dan saat ini berlindung di lokasi yang sangat aman dengan akses komunikasi yang terbatas,” kata sumber tersebut.
Mojtaba Khamenei baru saja terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Pemilihan Mojtaba dilakukan melalui pemungutan suara yang digelar oleh Majelis Ahli Iran pada awal pekan ini. Dalam proses tersebut, ia disebut memperoleh dukungan lebih dari 80 persen suara anggota majelis.
Baca Juga : Wali Kota Malang Imbau Warga Tak Terpancing Isu Bahan Pangan Langka Imbas Perang Timur Tengah
Sejumlah pejabat Iran menyatakan optimisme terhadap kepemimpinan Mojtaba. Mereka menilai Iran akan menjadi lebih kuat dan siap menghadapi berbagai ancaman dari luar di bawah kepemimpinannya.
Di sisi lain, operasi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel disebut bertujuan untuk mengganti rezim di Iran sekaligus menghancurkan program nuklir dan pengembangan rudal balistik negara tersebut.
Meski tekanan militer terus meningkat, banyak pengamat menilai struktur kepemimpinan ulama di Iran sudah sangat mengakar kuat sehingga tidak mudah digoyahkan.
