Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Susur Sungai, BPBD Kota Batu Temukan Ratusan Titik Rawan di Aliran Sungai

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

10 - Jul - 2026, 20:25

Placeholder
Tim saat menyusuri sungai di Kota Batu. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Penyisiran sungai yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu menjelang musim penghujan sejak awal Juni 2026 mengungkap tingginya potensi ancaman bencana hidrometeorologi. Di sejumlah sungai, petugas menemukan puluhan titik kayu tumbang, rumpun bambu, belasan sumbatan aliran, serta beberapa titik longsor yang berpotensi memicu banjir bandang saat musim penghujan.

Selama hampir dua bulan pelaksanaan program Mitigasi Susur Sungai (Miss U) 2026, kegiatan ini melibatkan BPBD Kota Batu bersama TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPR, Perhutani, UPT Tahura R. Soerjo, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), relawan desa, hingga berbagai instansi terkait.

Baca Juga : Lahan Dekat Baloga Kota Batu Terbakar, Diduga akibat Bakar Sampah

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho, mengatakan program Miss U menjadi langkah mitigasi non-struktural yang rutin dilaksanakan sejak 2023 sebagai upaya mengurangi risiko banjir bandang dan tanah longsor sebelum musim hujan tiba. Melihat kondisi geografis Kota Batu memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.

“Karena itu, kami sengaja melakukan susur sungai sebelum musim hujan agar potensi bahaya dapat ditemukan dan ditangani lebih awal, sehingga risiko kerusakan maupun korban jiwa dapat ditekan,” kata Gatot.

Penyisiran dimulai di kawasan Sumber Darmi pada 2-3 Juni 2026. Di lokasi ini petugas menemukan 16 titik pohon tumbang yang melintang di aliran sungai serta 1 titik longsoran tebing. Seluruh material langsung dieksekusi melalui pemotongan batang pohon dan pembersihan ranting agar tidak terbawa arus saat debit sungai meningkat.

Penyisiran kemudian berlanjut ke Sungai Krecek pada 8-9 Juni. Sungai sepanjang sekitar 7,5 hingga 8 kilometer itu menjadi salah satu lokasi dengan temuan terbanyak. Tim mencatat sedikitnya ada 21 titik kayu tumbang, 27 rumpun bambu yang menghambat aliran airc 5 titik longsor dan belasan titik gangguan aliran sungai akibat material yang menumpuk.

Sementara itu, di Sungai Glagah Wangi pada 10-11 Juni ditemukan 26 titik hambatan, yang didominasi kayu, vegetasi, serta tumpukan sampah pertanian yang menyumbat aliran air.

Penyisiran berikutnya dilakukan di kawasan Sungai Brantas Bon 8, Coban Peteng, hingga Pusung Lading pada 12–25 Juni. Di lokasi tersebut petugas kembali mendapati berbagai potensi bahaya berupa tumpukan kayu, puluhan rumpun bambu yang menutupi badan sungai, material longsoran, hingga sampah yang berpotensi menghambat laju air ketika hujan deras terjadi.

“Fokus kami bukan hanya mengidentifikasi, tetapi juga langsung melakukan eksekusi terhadap material yang berpotensi menjadi bendung alami. Pohon roboh, batang kayu, rumpun bambu, hingga longsoran harus segera dibersihkan karena jika menumpuk dapat menyumbat aliran sungai. Ketika bendung alami itu jebol, banjir bandang bisa terjadi di wilayah hilir,” tegas Gatot.

Selain hasil penyisiran lapangan, BPBD juga mengacu pada Kajian Risiko Bencana dan pemutakhiran Indeks Ancaman Banjir 2024. Dari kajian tersebut diketahui bahwa sejumlah wilayah di Kecamatan Bumiaji, Batu, dan Junrejo masih masuk kategori ancaman tinggi (zona merah) terhadap bencana banjir maupun banjir bandang.

Baca Juga : Pemkot Surabaya Tertibkan Lahan Parkir dan Perketat Regulasi Perizinan  

Karena itu, BPBD merekomendasikan pembersihan aliran sungai dilakukan secara berkala, khususnya pada sungai-sungai periodik (intermittent river) yang debit airnya dapat meningkat drastis saat hujan lebat.

“Pemantauan tidak boleh berhenti setelah kegiatan susur sungai selesai. Sungai-sungai yang debitnya berubah sangat cepat saat musim hujan harus terus diawasi agar material baru yang terbawa arus bisa segera dibersihkan,” tambah Gatot.

BPBD juga menekankan bahwa pengurangan risiko bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah. Peran masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai, dinilai sangat penting.

Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat desa didorong untuk aktif memantau kondisi sungai sekaligus mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah maupun limbah pertanian ke aliran sungai.

Apabila menemukan sumbatan baru atau potensi bahaya di sungai, masyarakat diminta segera melaporkannya melalui Call Center/WhatsApp BPBD Kota Batu di nomor 0812-1710-4099 atau layanan darurat 112 milik Pemerintah Kota Batu.

“Mitigasi tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Kami mengajak seluruh warga menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah maupun limbah pertanian ke aliran air, karena sungai yang bersih merupakan benteng pertama untuk mengurangi risiko banjir bandang saat musim hujan datang,” tutup Gatot.


Topik

Peristiwa Susur Sungai BPBD Kota Batu Aliran Sungai Kota Batu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Ngawi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni