Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Teknologi Masuk Kebun Belimbing, Unisba Blitar Kembangkan Pengendalian Lalat Buah Ramah Lingkungan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

14 - Aug - 2026, 16:15

Placeholder
Tim PKM Unisba Blitar bersama mitra memasang augmentarium berbasis Internet of Things (IoT) di perkebunan belimbing Karangsari, Kota Blitar, Minggu (9/8/2026). Teknologi ini diterapkan untuk mendukung konservasi parasitoid sebagai musuh alami lalat buah sekaligus membantu pemantauan kondisi lingkungan perkebunan.(Foto: Unisba Blitar)

JATIMTIMES – Teknologi digital mulai mengambil peran dalam menjaga produktivitas kebun belimbing di Kota Blitar. Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar mengembangkan pengendalian lalat buah yang lebih ramah lingkungan dengan menggabungkan konservasi parasitoid, augmentarium berbasis Internet of Things (IoT), dan pendekatan citizen science.

Inovasi itu diperkenalkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) kepada Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Sari Luhur Kota Blitar. Sebanyak 10 peserta mengikuti pelatihan di Gedung Meeting Space Agrowisata Belimbing Karangsari, Kota Blitar, Minggu (9/8/2026).

Baca Juga : Simak Pidato Kenegaraan Presiden, Wali Kota Blitar: Persatuan Jadi Modal Membangun dan Menyejahterakan Rakyat

Program tersebut tidak sekadar mengenalkan perangkat teknologi. Tim Unisba Blitar membekali mitra kemampuan mengenali lalat buah, memahami parasitoid sebagai musuh alami, melakukan pengamatan dan pencatatan data, hingga memanfaatkan sensor IoT untuk memantau kondisi lingkungan perkebunan.

Tim PKM diketuai Dr. Dwi Kameluh Agustina, S.Si., M.Pd., dengan anggota Eva Nurul Malahayati, M.Pd. dan Jeka Widiatmanta, S.P., M.Agr., serta melibatkan dua mahasiswa. Program berlangsung sejak 13 April hingga 16 Desember 2026.

Kegiatan ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Hibah Pengabdian BIMA Tahun Anggaran 2026. Dalam pelaksanaannya, Unisba Blitar menggandeng P4S Sari Luhur sebagai mitra untuk mendorong agar inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dapat diterapkan langsung di tingkat masyarakat.

Parasitoid Jadi Benteng Alami Kebun Belimbing

Unisba

Persoalan lalat buah menjadi pintu masuk pelatihan. Tim Unisba Blitar menjelaskan karakteristik dan siklus hidup lalat buah, dampaknya terhadap tanaman belimbing, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasinya.

Pengendalian kemudian diarahkan pada pendekatan yang lebih ekologis. Peserta dikenalkan dengan parasitoid, organisme yang berperan sebagai musuh alami lalat buah. Keberadaan parasitoid perlu dipertahankan agar ekosistem perkebunan memiliki mekanisme pengendalian hayati secara alami.

Untuk memperkuat konservasi tersebut, tim mengenalkan augmentarium. Sarana ini dimanfaatkan untuk mendukung pemeliharaan dan keberadaan parasitoid sehingga populasinya dapat membantu menekan lalat buah.

Ketua Tim PKM Unisba Blitar Dwi Kameluh Agustina mengatakan pendekatan tersebut dirancang untuk mempertemukan teknologi dengan prinsip pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

“Augmentarium dan IoT menjadi sarana untuk memperkuat upaya konservasi parasitoid dan pemantauan lingkungan perkebunan,” kata Dwi.

Teknologi IoT yang disematkan pada augmentarium memungkinkan kondisi mikro lingkungan tertentu dipantau melalui sensor. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai informasi pendukung dalam pengelolaan perkebunan.

Petani Menjadi Bagian dari Proses Ilmiah

Unisba

Unisba Blitar juga membawa pendekatan citizen science. Melalui konsep ini, anggota P4S Sari Luhur tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi ikut menjadi bagian dalam proses pengumpulan data dari kebun.

Peserta dilatih melakukan tiga keterampilan utama: mengamati, melakukan identifikasi sederhana, dan mencatat data. Mereka diarahkan mengenali lokasi dan objek pengamatan serta melakukan pemantauan secara konsisten agar perubahan kondisi dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.

Pada tahap identifikasi, peserta belajar membedakan lalat buah dengan organisme lain sekaligus mengenali keberadaan parasitoid berdasarkan karakteristik yang dapat diamati di lapangan. Hasil pengamatan kemudian dicatat berdasarkan waktu dan lokasi.

Pencatatan sistematis itu penting karena data yang dikumpulkan masyarakat dapat menjadi pijakan dalam membaca kondisi perkebunan dan menentukan langkah pengelolaan berikutnya.

Baca Juga : FSTeM UB Ubah Limbah Cair Apel Pujon Jadi Minuman Fermentasi dan Biopestisida

“Melalui pendekatan citizen science, kami ingin mendorong mitra menjadi bagian dari proses ilmiah, mulai dari mengamati, mengidentifikasi, mencatat, hingga memanfaatkan data,” ujar Dwi.

Menurut dia, program pengabdian tersebut memang tidak dirancang sebatas transfer pengetahuan. Orientasinya adalah pemberdayaan, sehingga masyarakat mampu memahami teknologi, menggunakannya, sekaligus membangun kebiasaan mengambil keputusan berdasarkan hasil pengamatan.

Augmentarium Berbasis IoT Dipasang di Karangsari

Pelatihan kemudian bergerak dari ruang pertemuan menuju kebun. Tim Unisba Blitar bersama mitra memasang unit augmentarium berbasis IoT di perkebunan belimbing Karangsari.

Peserta dilibatkan dalam proses pemasangan dan mendapatkan penjelasan mengenai fungsi setiap bagian perangkat serta prinsip kerjanya. Augmentarium berfungsi mendukung konservasi parasitoid, sedangkan teknologi IoT membantu pemantauan kondisi mikro lingkungan yang berkaitan dengan keberlangsungan organisme di dalam maupun sekitar perangkat tersebut.

Setelah teknologi terpasang, P4S Sari Luhur diharapkan melanjutkan pengamatan dan pencatatan secara berkala. Data yang terkumpul dapat digunakan untuk membaca kondisi lingkungan sekaligus memantau keberadaan lalat buah dan parasitoid.

PKM

Ketua P4S Sari Luhur Kota Blitar, Furqon, menilai program tersebut memberi perspektif baru bagi anggotanya. Pengendalian lalat buah, kata dia, ternyata dapat dikembangkan dengan memadukan musuh alami dan teknologi.

“Kami menjadi lebih memahami bahwa pengendalian lalat buah tidak hanya dilakukan dengan cara konvensional, tetapi juga dapat memanfaatkan musuh alami dan teknologi,” ujar Furqon.

Ia berharap pendampingan dapat berlanjut agar anggota P4S semakin terampil melakukan pengamatan dan mengelola perkebunan secara mandiri.

“Harapannya, pendampingan ini terus berlanjut sehingga kami semakin mandiri dalam mengelola perkebunan dengan memanfaatkan teknologi dan pengendalian yang ramah lingkungan,” kata Furqon.

Kolaborasi ini menegaskan peran Unisba Blitar dalam membawa ilmu pengetahuan dan teknologi lebih dekat kepada masyarakat. Dengan dukungan Kemdiktisaintek, LPPM Unisba Blitar, dan P4S Sari Luhur, program tersebut diharapkan memperkuat pengelolaan kebun belimbing yang mandiri, berbasis data, dan ramah lingkungan.


Topik

Pendidikan Kebun Belimbing Unisba Blitar Pengendalian Lalat Buah Ramah Lingkungan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Ngawi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni